Lompat ke konten

Kembali ke Habitat, Melihat Kehidupan Baru Udin-Lola Pasca Pelepasliaran di Cagar Alam Gunung Tilu

Penulis: Tim OWA XII Divisi Mamalogi, Departemen Riset dan Keilmuan, DP XLIV Himbio Unpad


Alam dengan keanekaragaman ekosistemnya memberikan tempat bagi berbagai jenis hewan untuk melangsungkan hidupnya.  Bagi hewan, alam merupakan habitat asli atau rumah ideal yang menyediakan segala kebutuhan untuk kelangsungan hidupnya, mulai dari sumber makanan, air, tempat tidur, tempat berkembang biak hingga tempat berlindung dari predator maupun cuaca. Namun, tidak semua hewan dapat hidup di habitat aslinya. Banyak hal dapat menyebabkan hewan secara terpaksa hidup di tempat yang bukan habitat asli mereka. Aktivitas manusia seperti perburuan dan perdagangan ilegal menjadi alasan yang dapat mengakibatkan hewan tidak bisa hidup di habitat aslinya. Contohnya, hewan yang menjadi target perdagangan ilegal terkadang diperdagangkan sebagai hewan peliharaan dan seringkali diperlakukan kurang baik. Pada akhirnya hewan-hewan yang diselamatkan dari aktivitas tersebut harus tinggal di tempat rehabilitasi untuk menjalani pemulihan, sehingga dalam jangka waktu yang cukup lama tidak bisa tinggal di habitat alaminya. Hal tersebut dikarenakan banyak hewan yang ketika dipelihara mengalami sejumlah cedera baik secara fisik maupun psikologis.

Udin dan Lola merupakan sepasang Owa Jawa rehabilitan yang telah menjalani proses rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Satwa Primata Jawa (PRS-PJ) – The Aspinall Foundation Indonesia Program (TAF-IP). Berdasarkan data informasi yang diberikan oleh TAF-IP, Udin merupakan Owa jantan berumur 4,4 tahun, sedangkan Lola adalah Owa betina berumur 7,2 tahun. Udin dan Lola berasal dari penyerahan warga Cikelet, Garut. Pada 23 Juni 2021, Udin diserahkan ke TAF-IP, sedangkan Lola diserahkan oleh warga ke TAF-IP pada 6 Maret 2018. Udin dan Lola dipasangkan pada Januari 2022 dan menjalani masa sosialisasi bersama selama 9 bulan di pusat rehabilitasi. Berdasarkan hasil penelitian Reni (2022) disebutkan bahwa pasangan Owa Jawa Udin-Lola dikategorikan siap untuk dilepasliarkan, sehingga pada 4 Juli 2022  Udin-Lola ditranslokasi dari PRS-PJ ke kandang habituasi di Cagar Alam Gunung Tilu (CAGT), kemudian dilepasliarkan pada 6 September 2022 di Kawasan CAGT oleh BBKSDA Jawa Barat bersama TAF-IP.

Sepasang Owa Jawa di Cagar Alam Gunung Tilu (a.) Udin, (b.) Lola

Pada tanggal 23 sampai 29 Juli 2023, Mahasiswa Himpunan Biologi (Himbio) Universitas Padjadjaran, Tim OWA XII Mamalogi melaksanakan kegiatan observasi aktivitas harian sepasang Owa Jawa (Udin-Lola) di Cagar Alam Gunung Tilu (CAGT) Bandung, Jawa Barat. Kegiatan tersebut diikuti oleh dua belas orang mahasiswa, yaitu Difa Nabila, Dea Navita, Ajeng Zafira, Salma Rahma, Citra Yuliani, Vidia Ayu, Tiffani Ayu, Nasywa Adibya, Haifa Zahira, Muhammad Fadhli, dan Malvin Albert. Kegiatan ini didampingi oleh dua orang senior pembimbing, yaitu Muhammad Arkan Dzaky dan Raihan Ahmad yang juga merupakan mahasiswa biologi.

Keberangkatan Tim OWA XII Mamalogi untuk kegiatan observasi aktivitas harian sepasang Owa Jawa (Udin-Lola) di Cagar Alam Gunung Tilu

Seperti yang kita ketahui, seluruh makhluk hidup akan beradaptasi ketika berpindah ke suatu habitat yang baru. Setelah pelepasan ke alam liar, maka Owa Jawa akan mengalami serangkaian proses adaptasi pada berbagai aktivitasnya, seperti perubahan pada perilaku makan, bergerak, istirahat dan perilaku sosial. Hal tersebut dikarenakan kondisi lingkungan tempat tinggal Owa Jawa saat berada di tempat rehabilitasi dengan lingkungan alam liar sangatlah berbeda. Proses adaptasi ini bisa membutuhkan waktu yang cukup lama dan memunculkan berbagai tantangan bagi mereka, seperti harus belajar mencari makanan alami di alam liar, beradaptasi dengan iklim dan cuaca yang berubah-ubah, mengembangkan keterampilan bertahan hidup untuk menghindari predator, dan lainnya.

Owa Jawa merupakan satwa frugivora, artinya lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan dibandingkan jenis makanan lainnya (Kim et al., 2011). Saat berada di tempat rehabilitasi, Owa Jawa diberi pakan pada wadah yang disimpan di luar kandang dengan waktu pemberian pakan tiga kali dalam sehari, yaitu pada rentang waktu 07.00-08.00, 10.00-11.00, dan 15.00-16.00 (TAF-IP). Setelah pelepasliaran, Owa Jawa mulai mencari sumber makanan sendiri dengan cara menjelajahi wilayah hutan. Di alam liar, ketersediaan sumber makanan melimpah sehingga frekuensi aktivitas makan owa Jawa di alam liar lebih tinggi dibandingkan saat berada di tempat rehabilitasi. Selama observasi, Udin-Lola teramati sudah bisa beradaptasi dengan habitat aslinya, contohnya mereka sudah bisa mencari makan sendiri. Aktivitas makan Udin-Lola didominasi oleh dedaunan dibandingkan buah-buahan. Hal ini disebabkan oleh pemilihan makanan yang dipengaruhi berbagai faktor seperti musim, ketersediaan makanan dan kebutuhan nutrisi. Pada wilayah jelajah Udin-Lola, teramati bahwa buah-buahan tidak tersedia dalam jumlah yang cukup sehingga mereka memilih memakan dedaunan yang tersedia lebih banyak. Hal tersebut dikarenakan pada saat Tim OWA melakukan observasi, kondisi lingkungan sedang dalam musim kemarau. Berikut beberapa pohon yang dijadikan sebagai sumber pakan oleh Udin-Lola yaitu Seuseureuhan, Saninten, Tepus, Sumatera, Hamerang, Suren, Beunying, Bingbin, Kaliandra, Puspa, Hoe, Manggong, Cerem, Peer, dan Ki Badak.

Lola mengambil bunga dari pohon Kaliandra

              Lola memakan daun

Menurut Ario dkk (2018), keberhasilan adaptasi Owa Jawa dapat dinilai dari perilaku konsumsi, brakiasi, komunikasi, dan interaksi afiliatif. Brakiasi merupakan salah satu aktivitas bergerak yang dilakukan Owa Jawa dengan berayun dari satu cabang ke cabang lainnya menggunakan lengan (Srimulyaningsih dan Ramdan, 2022). Owa Jawa bergerak untuk menjaga panas tubuh agar tetap stabil. Biasanya Owa Jawa banyak melakukan aktivitas bergerak pada pagi hari dan  menurun pada siang hari dikarenakan cuaca yang panas, sehingga pada siang hari Owa Jawa lebih banyak melakukan aktivitas istirahat.

Udin dan Lola mulai bergerak pada pagi hari setelah keluar dari pohon tidur untuk mencari makanan. Pada pagi hari saat matahari bersinar, Owa Jawa akan bergerak menuju pucuk-pucuk pohon untuk menangkap sinar matahari dan menghangatkan tubuh mereka sebelum memulai aktivitas. Selama pengamatan, aktivitas bergerak yang paling banyak dilakukan oleh pasangan ini adalah brakiasi. Udin cenderung lebih banyak bergerak dibanding Lola, hal tersebut terjadi karena Owa jantan berperan untuk menjaga wilayah teritorialnya (Widianto dkk., 2022). Selain brakiasi, selama pengamatan, Udin dan Lola juga melakukan aktivitas bergerak lainnya, yaitu memanjat, berjalan, dan melompat. Udin dan Lola mampu beradaptasi di habitat barunya karena aktivitas bergerak yang paling sering dilakukan adalah brakiasi. Di alam liar, daerah yang dapat dijelajahi Owa Jawa lebih luas dibandingkan saat berada dalam kandang, sehingga frekuensi bergerak Owa Jawa di alam liar jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di kandang. Selain itu, lokasi pelepasliaran merupakan kawasan baru bagi Owa, sehingga Owa harus menjelajahi kawasan tersebut untuk memperoleh perlindungan, makanan, dan teritori (Ario dkk., 2018).

Lola melakukan brakiasi 

Pada siang hari, umumnya aktivitas bergerak Owa Jawa akan menurun dan lebih banyak melakukan istirahat. Menurut Srimulyaningsih dan Ramdan (2022), istirahat adalah aktivitas Owa ketika tidak melakukan kegiatan, seperti dalam posisi duduk, menelungkup atau terlentang. Pada saat matahari berada di atas kepala, Udin dan Lola lebih banyak melakukan aktivitas istirahat sambil grooming. Selama pengamatan, Lola lebih banyak melakukan istirahat dibandingkan Udin dan kedua pasangan ini akan masuk ke pohon tidur di penghujung hari sebelum matahari terbenam, yaitu pada rentang pukul 16.35 – 17.40. Udin selalu masuk ke pohon tidur lebih dulu kemudian diikuti oleh Lola. Ketika hujan, Udin dan Lola masuk pohon tidur lebih awal, sementara ketika cuaca cerah, keduanya masuk ke pohon tidur lebih lambat dari biasanya. Pasangan Owa Jawa ini memiliki dua pohon tidur, yaitu Suren dan Saninten. Namun keduanya lebih sering memilih pohon Saninten sebagai lokasi tidur dan tempat favorit keduanya untuk istirahat adalah pada pohon Suren dan Saninten yang memiliki kadaka.

Udin sedang beristirahat (duduk)

Seperti manusia, Owa Jawa hidup secara berpasangan dan berkeluarga. Mereka melakukan interaksi layaknya sepasang kekasih yang saling bermesraan dengan mengelus kepala ataupun badan antara satu sama lain. Salah satu contoh aktivitas interaksi antara Udin dan Lola adalah allogrooming. Perilaku tersebut merupakan perilaku merawat diri yang dilakukan oleh satu individu terhadap individu lain, dimana terjadi interaksi antar individu sehingga termasuk aktivitas sosial (Nuraisah, 2015). Selama kegiatan tersebut, Udin dan Lola saling mencari kutu atau kotoran pada tubuh yang dilakukan secara bergantian. Selama pengamatan, kami merasa gemas melihat interaksi mereka layaknya sepasang kekasih saat sedang kasmaran. Maka tak heran julukan “Si Primata Setia” melekat pada spesies Owa Jawa, sebab interaksi mereka kepada pasangan masing-masing menunjukkan sisi kasih sayang dan sifat setia hanya kepada satu pasangan saja. 

Udin dan Lola sedang melakukan allogrooming

Selama perjalanan berangkat menuju tempat Udin dan Lola berada, kami juga sering mendengar suara nyaring Lola yang biasa disebut morning call. Suara yang dikeluarkan Lola tersebut bertujuan untuk mempertahankan wilayah teritorialnya akibat dari adanya keberadaan pengamat maupun lewatnya beberapa kelompok lutung. Uniknya, meskipun terdapat beberapa kawanan lutung yang menghampiri wilayah teritorial Udin dan Lola, interaksi mereka tetap baik-baik saja. Kelompok lutung hanya lewat begitu saja tanpa adanya interaksi seperti bertengkar ataupun mengganggu aktivitas Udin dan Lola selama melewati wilayah teritorial mereka. Selain itu, tanda adanya suara tersebut bertujuan untuk memanggil pasangannya yang sudah cukup jauh, yaitu Udin. Selama pengamatan, kami juga sempat melihat beberapa momen bermain antara Udin dan Lola. Aktivitas bermain yang dilakukan mereka seperti saling kejar-kejaran satu sama lain dengan cara bergelantungan, berjalan dari satu pohon ke pohon yang lain, ataupun berpegangan tangan.

Udin dan Lola sedang bermain

Selain disuguhkan oleh suara Owa Jawa, kami juga disuguhkan oleh rerimbunan pohon, tanaman, serta medan jalan yang tidak biasa selama pengamatan aktivitas harian Udin dan Lola. Posisi aktivitas harian yang dilakukan Udin dan Lola tidak hanya di dekat pohon pakan saja, namun terdapat juga di sungai yang merupakan salah satu tempat dimana kami sebagai pengamat sering kesulitan dalam melakukan pengamatan dikarenakan arus sungai yang cukup deras. Biasanya, pasangan Udin dan Lola ditemukan di daerah sekitar aliran sungai saat pagi menuju siang hari. Pada waktu tersebut mereka aktif melakukan berbagai aktivitas harian seperti allogrooming, bermain, dan bersuara. Perilaku maupun aktivitas Udin dan Lola yang sudah disebutkan sebelumnya sudah mendekati perilaku Owa Jawa liar pada umumnya. Harapannya, Udin dan Lola mampu hidup dan bertahan di alam liar serta menjaga kelestarian populasi Owa Jawa di Indonesia. 

Daerah sungai tempat aktivitas Udin dan Lola

Foto: Dokumentasi pribadi

Referensi:

Ario, A., Kartono, A. P., Prasetyo, L. B., dan Supriatna, J. 2018. Adaptasi Pasca-pelepasan Owa Jawa (Hylobates moloch) di dalam Hutan Lindung Gunung Malabar, Jawa Barat, Indonesia. Biodiversitas, 19(4): 1482 – 1491. 

Gibbonesia. 2022. Kenalan Sama Lola dan Udin, Pasangan Owa Jawa Asal Garut [Online].https://gibbonesia.id/kenalan-sama-lola-dan-udin-pasangan-owa-jawa-asal-garut/(diakses 12 November 2023).

Kim, S., Coe, J.C., Lappan  S.  2011.  Diet  And  Ranging Behavior    of    the    Endangered    Javan    Gibbon (Hylobates   Moloch)   in   A   Submontane   Tropical Rainforest. American Journal of Primatology, 73(3): 270280.

Nuraisah, G. S. (2015). Studi Perilaku Harian Owa Jawa (Hylobates moloch) di Penangkaran Pusat Studi Satwa Primata LPPM IPB. Jurnal Primatologi Indonesia, 12(1), 19-29. 

Reni, N. 2022. Analisis Kesiapan Pelepasliaran Pasangan Owa Jawa Di Pusat Rehabilitasi Primata Jawa (PRPJ) The Aspinall Foundation. Skripsi, Jurusan Biologi. Bandung: UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Srimulyaningsih, R., dan Ramdan. 2022. Aktivitas Harian Owa Jawa (Hylobates Moloch) di Pusat Rehabilitasi Satwa Primata Jawa Ciwidey Jawa Barat. Wanamukti: Jurnal Penelitian Kehutanan, 25(1): 47-59.

Widianto, M. M., Husodo, T., Megantara, E. N., Wulandari, I., Atsaury, Z. I. L. A., dan Febrianto, P. 2022. Variasi Aktivitas Harian Owa Jawa (Hylobates moloch) Berdasarkan Kelas Umur dan Jenis Kelamin di Cisokan, Jawa Barat, Indonesia. In Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia, 8 (1): 71 – 79.