Lompat ke konten

Ketenangan dari Aromanya, Ancaman dari Senyawanya: Dualitas Llily of the Valley

Penulis: Salwa Anggraeni (2024)
Disunting oleh: Arivia Mutiara Syahira (2023)

Convallaria majalis bukan hanya dikenal karena bunga berwarna putih dan harum, tetapi juga mengandung beragam senyawa bioaktif terutama glikosida jantung seperti Convallatoxin yang memiliki potensi farmakologis tetapi juga risiko toksisitas yang tinggi. Menurut Pahutyan et al. (2025), convallatoxin memiliki kemampuan meningkatkan kontraktilitas jantung. Karena itu, senyawa ini secara tradisional dimanfaatkan untuk menangani kelemahan fungsi jantung, takikardia, dan aritmia. Selain itu, ekstrak Lily of the Valley ini juga menunjukkan aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan diuretik, sehingga secara teoretis berpotensi digunakan pada kondisi terkait inflamasi kronis, stres oksidatif, maupun retensi cairan. Namun, sisi gelap dari potensi medis tersebut muncul dari risiko toksisitas semua bagian tanaman (bunga, daun, akar, berry) dapat beracun. Studi in vitro menggunakan sel endotel manusia (HUVECs) menunjukkan bahwa convallatoxin dapat menginduksi ekspresi Tissue Factor (TF), pemicu jalur koagulasi eksternal, bahkan pada konsentrasi nanomolar saja. Hal ini berarti konsumsi atau paparan convallatoxin tidak hanya berisiko terhadap jantung, tetapi mungkin juga menimbulkan keadaan hiperkoagulabilitas, yaitu peningkatan kecenderungan pembekuan darah sesuatu yang dapat membahayakan (Morimoto et al., 2021).

Di luar peran sebagai “obat herbal berisiko,” penelitian kimiawi modern juga menemukan bahwa selain glikosida, C. majalis mengandung steroidal glycosides da saponin kompleks yang, dalam uji kultur sel kanker manusia, menunjukkan aktivitas sitotoksik dan induksi apoptosis (kematian sel) terhadap sel kanker seperti sel leukemia, adenokarsinoma paru, dan sel kanker mulut (Matsuo et al., 2017). Hal ini membuka kemungkinan bahwa senyawa dari Lily of the Valley bila diisolasi dan diformulasi secara tepat dapat berpotensi sebagai agen antikanker. Namun secara bersamaan, sifat sitotoksiknya ini menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak tanaman secara sembarangan dan tanpa pengawasan medis sangat berbahaya.

Selain aspek biologis dan farmakologisnya, Lily of the Valley juga memiliki nilai simbolik yang kuat. Dalam tradisi Eropa, bunga kecil berbentuk lonceng ini melambangkan kerendahan hati, kebangkitan, dan kemurnian, karena bentuknya yang sederhana namun memancarkan aroma kuat dan khas. Filosofi ini sering diartikan sebagai pengingat bahwa kebaikan tidak selalu tampak mencolok, dan bahwa sesuatu yang lembut dapat memiliki dampak yang besar sebuah makna yang ironis namun selaras dengan karakter biologisnya, dimana keindahan dan bahaya bersatu dalam satu organisme.

Referensi
Matsuo, Y., Shinoda, D., Nakamaru, A., Kamohara, K., Sakagami, H.,and Mimaki, Y. (2017). Steroidal Glycosides from Convallaria majalis Whole Plants and Their Cytotoxic Activity. International Journal of Molecular Sciences, 18(11), 1-14.
https://doi.org/10.3390/ijms18112358.

Morimoto, M., Tatsumi, K., Yuui, K., Terazawa, I., Kudo, R., and Kasuda, S. (2021)
Convallatoxin, The Primary Cardiac Glycoside in Lily of The Valley (Convallaria
majalis
), Induces Tissue Factor Expression in Endothelial Cells. Veterinary Medicine
and Science, 7
(6), 2440-2444. https://doi.org/10.1002/vms3.614.

Pahutyan, N., Gasparyan, H., Sargsyan, S., Melyan, G., Shahinyan, M., Navoyan, Q. (2025). Convallaria majalis (Lily of the Valley): A Review of its Cardiac Glycosides, Medicinal Applications, and Safety profile. Bioactive Compound in Health and Disease, 8(9), 350-364.