Lompat ke konten

Lamun Sebagai Penyerap Karbon

Penulis: Farra Aurelia R. (2023)
Disunting oleh: Farra Aurelia R. (2023)

Permasalahan emisi karbon ke atmosfer saat ini menjadi masalah utama karena krusial yang memberikan efek pemanasan global dan perubahan iklim. Hal ini sangat memberikan dampak negatif bagi lingkungan sekitar. Menurut Smith et al., (2004) karbondioksida menjadi penyumbang terbesar, yaitu sekitar 55% dari seluruh gas rumah kaca. Konsentrasi karbondioksida di atmosfer dapat meningkat tiap tahunnya. Peningkatan ini menjadi salah satu penyebab perubahan iklim iklim dan bencana di berbagai belahan dunia (Nellemann et al., 2009). Dengan ini, perlu dilakukan penanggulangan dengan menanamkan tanaman penyerap karbon. Salah satu tanaman laut penyerap karbon, yaitu lamun. Lamun memiliki peranan yang penting sebagai penyerap karbon atau biasa dikenal sebagai blue carbon.

Ekosistem lamun memiliki kapasitas untuk menurunkan dan menimbun mkarbon di atmosfer ke lingkungan sekitar dan menyimpannya dalam waktu yang lama,sehingga peranan lamun memberikan peranan yang optimal untuk menyerap CO2 di atmosfer untuk mengurangi gas buangan karbon yang disebab dari pemanasan global. Meskipun lamun hanya menutupi sebagian kecil dari dasar laut, tetapi ekosistem ini menjadi ekosistem terbanyak yang mampu menyerap karbon. Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang berada di perairan dangkal dan membentuk suatu ekosistem. Ekosistem lamun memiliki peranan yang sangat vital bagi relung ekologi, salah satunya sebagai penyerap karbon di atmosfer. Lamun memiliki kemampuan menyerap karbon melalui proses fotosintesis dan dialirkan ke dalam jaringan tubuhnya dalam bentuk biomassa (Nordlund et al., 2016; Rangkuti et al., 2017).

Lamun dapat mengakumulasi dan menyimpan karbon pada bagian atas (above
ground) dengan bentuk biomassa batang dan daun, kemudian pada bagian bawah (below ground) berbentuk biomassa rhizome dan akar (Howard, 2014; Nugraha et al., 2020). Lamun melakukan penyerapan karbon dalam jumlah yang besar dan menyimpannya dalam jangka waktu yang lama. Diketahui lamun dapat menyerap karbon 35 kali lebih efektif dibandingkan hutan hujan tropis (Nellman et al., 2009). Padang lamun dapat mengikat karbon selama ribuan tahun dibandingkan hutan darat yang mengikat karbon karbon selama beberapa dekade (Macreadie et al., 2014).

Salah satu jenis lamun yang memiliki sebaran paling tinggi di Indonesia, yaitu
Thalassia hemprichii. Jenis ini memiliki vegetasi yang mendominasi (Hutomo, 1998) dan memberikan kontribusi besar terhadap total biomassa ekosistem. Selain menstabilkan dasar laut, Thalassia hemprichii dan menjadikan jenis ini sebagai pemain kunci dalam siklus karbon global. Melalui proses fotosintesis, lamun menyerap karbon dari kolom air dan mengubahnya menjadi materi organik. Oleh karena itu, lamun memiliki peranan yang sangat penting untuk mengurangi emisi karbon dan membantu menjaga lingkungan sekitar dari perubahan iklim global.

Referensi
Howard JK, Isensee H, Kennedy E, Pidgeon M, Telszewski S, Crooks I, Emmer D, Herr S, Hoyt, Howard JS, Hoyt K, Isensee E, Pidgeon M, Telszewski. (2014). Coastal Blue Carbon: Methods for Assessing Carbon Stock and Emissions factor in Mangrove, Tidal Salt Marsh and Seagrass Meadow. The Blue Carbon Initiative. 15 – 24.

Hutomo M, Kiswara, Azkab. (1998). The Status of Seagrass Ecosystem in Indonesia:Resourches, Problems, Research and Management. Paper Presented at Seagram L, Manila, 17-22

Nellemann C, Corcorn E, Duarte CM, Valdés L, DeYoung C, Fonseca L, Grimsditch
G.(2009). Blue Carbon : A Rapid Response Assessment. United Nations Environment
Programme: Birkeland Trykkeri AS.

Nugraha AH, Kawaroe M, Srimariana ES, Jaya I, Apdillah D, Deswati SR. (2019). Carbon
storage in seagrass meadow of Teluk Bakau – Bintan Island. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 278, 1-6.

Nordlund L, Koch EW, Barbier EB, Creed JC. (2016). Seagrass ecosystem services and their variability across genera and geographical regions. PLoS ONE, 11(10), 1-23.

Rangkuti AM, Cordova MR, Rahmawati A, Adimu H.E. (2017). Ekosistem Pesisir dan Laut Indonesia. Bumi Aksara: Jakarta. 482 p