
Penulis: Taghsyadila Vidra Putri (2025)
Disunting oleh: Meiva Mayyasah Huda (2025)
Laut merupakan habitat alami dari berbagai organisme. Tetapi, kini keadaan tersebut sudah mulai berubah karena pencemaran laut oleh sampah-sampah plastik. Salah satu korban yang terdampak dengan meningkatnya pencemaran tersebut adalah penyu laut. Banyak spesies penyu laut yang menelan sampah plastik sehingga persentase sampah plastik yang terdeteksi pada penyu merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan mamalia atau burung laut lainnya. Maka dari itu, tidak sedikit penyu yang mengalami gangguan kesehatan hingga kematian setelah menelan sampah plastik (Moon et al., 2023).
Penyu laut merupakan kelompok reptil laut yang tergolong dalam famili Cheloniidae dan Dermochelyidae. Terdapat 6 jenis penyu di dunia dan 6 diantaranya terdapat di Indonesia, yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu Pipih (Natator depressus). Penyu tumbuh dan berkembang pada tahap ukiran yang berbeda-beda. Ukuran pada penyu dikelompokkan ke dalam 4 kategori. Pertama, tukik muda yaitu penyu yang baru
saja menetas dan bahkan masih terlihat tali pusarnya. Kategori kedua adalah tukik dimana tali pusarnya sudah menghilang dan memiliki panjang karapas ± 40 cm. Lalu yang ketiga, kategori muda yaitu tukik yang belum matang kelaminnya dan dengan panjang karapas sebesar 40-80 cm. Kategori terakhir adalah dewasa dimana kelaminnya sudah matang dan panjang karapasnya sudah lebih dari 80 cm (Ario et al., 2016).
Selain itu, penyu laut memiliki adaptasi morfologi yang khas. Bentuk tubuh yang streamline serta kaki yang termodifikasi menjadi sirip memungkinkan mereka berenang dengan efisien di perairan terbuka. Penyu juga memiliki kemampuan menyelam dalam waktu lama karena efisiensi penggunaan oksigen dalam tubuhnya. Adaptasi ini menjadikan penyu sebagai salah satu reptil yang sangat sukses beradaptasi di lingkungan laut.
Umumnya, penyu merupakan hewan pemakan segala (omnivora). Pada setiap jenis penyu memiliki makanan yang berbeda-beda satu sama lain. Namun pada penyu Lekang memiliki sifat karnivora. Penyu Lekang memiliki paruh yang kuat dan besar untuk memangsa ikan, ubur-ubur, cumi-cumi, bintang laut, kerang, kima, kepiting dan udang. Sedangkan pada penyu Hijau memiliki sifat yang cenderung ke arah herbivora. Penyu Hijau ini makan dengan memangsa alga dan lamun. Penyu memiliki bentuk mulut dan paruh yang khusus untuk membantu mendapatkan makanannya. Lalu, penyu Sisik memiliki bentuk kepala dan paruh yang meruncing untuk memudahkan mencari makanan di terumbu karang. Penyu termasuk ke dalam hewan poikilotermal, suhu tubuh mengikuti suhu lingkungan sampai pada batas tertentu (Ario et al., 2016).
Ancaman dari pencemaran plastik pada laut ini tidak hanya mengakibatkan tertelannya plastik tersebut oleh penyu, tetapi juga dapat menjerat tubuh penyu sehingga menimbulkan luka. Setiap jenis pada penyu memiliki potensi yang besar sebagai korban pencemaran, terutama yang terjadi di laut-laut Indonesia (Rizzi et al., 2019). Oleh karena itu, meskipun penyu laut memiliki berbagai cara adaptasi yang luar biasa, tetapi ancaman dari sampah plastik tetap menjadi faktor utama yang mengancam kelangsungan hidupnya. Diperlukan upaya untuk mengurangi pencemaran plastik yang terjadi dengan mengontrol penggunaan plastik, serta menjaga kebersihan laut agar ekosistem tetap seimbang dan penyu laut dapat terus bertahan di habitat alaminya
