
Penulis: Ali Fatih Maulana (Biologi 2024)
Disunting oleh: Arivia Mutiara Syahira (Biologi 2023)
Dalam dunia biologi laut, selalu ada kejutan yang membuat kita terkagum-kagum. Salah satunya
adalah Costasiella kuroshimae, atau yang lebih dikenal sebagai leaf sheep/slug. Julukan ini muncul
karena tubuh mungilnya berwarna hijau cerah dengan tonjolan mirip daun dan antena kecil yang
membuatnya terlihat seperti domba mini. Namun, yang membuatnya benar-benar istimewa
adalah kemampuannya melakukan fotosintesis, sebuah proses yang biasanya hanya dimiliki
tumbuhan dan alga.
Rahasia kemampuan ini terletak pada kebiasaannya dalam memakan alga hijau. Ketika leaf sheep
menghisap isi sel alga, ia tidak hanya memperoleh nutrisi, tetapi juga “mencuri” kloroplas,
organel hijau yang berfungsi mengubah cahaya matahari menjadi energi. Proses ini disebut
kleptoplasty, yakni strategi unik menyimpan kloroplas di dalam jaringan tubuh siput. Dengan
cara ini, leaf sheep dapat menghasilkan energi tambahan dari cahaya matahari, layaknya tanaman
kecil di dasar laut (Rumpho dkk., 2011).
Fenomena kleptoplasty bukan hanya milik leaf sheep. Beberapa siput lain dari ordo Sacoglossa,
seperti Elysia chlorotica dan Plakobranchus ocellatus, juga memilikinya. Namun, C. kuroshimae
menjadi ikon paling populer karena penampilannya yang lucu (Christa dkk., 2014). Pertanyaannya, bagaimana mungkin kloroplas bisa bertahan dalam tubuh hewan? Bukankah organel tersebut seharusnya cepat rusak tanpa dukungan sel induknya? Menurut Rumpho dkk. (2008) dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS). Tim peneliti tersebut menemukan adanya transfer gen horizontal dari alga ke siput. Dengan kata lain, sebagian kecil gen alga berpindah dan menyatu dengan genom siput. Gen tambahan inilah yang memberi “petunjuk” bagi tubuh leaf slug untuk merawat kloroplas sehingga tetap fungsional.
Meski begitu, ilmuwan masih memperdebatkan sejauh mana leaf sheep benar-benar bisa
bertahan hidup hanya dengan fotosintesis. Studi menunjukkan bahwa tidak ada bukti kuat adanya
transfer gen penuh dari alga ke siput, sehingga kloroplas hanya bisa bertahan sementara sebelum
akhirnya melemah (Wägele dkk., 2011; Christa dkk., 2013). Artinya, fotosintesis pada leaf
sheep bukan pengganti total makanan, melainkan strategi tambahan untuk bertahan di
lingkungan laut yang miskin nutrisi.
Keunikan leaf sheep menunjukkan betapa kreatifnya alam. Batas antara tumbuhan dan hewan
ternyata tidak setegas yang kita kira, tidak selalu hewan yang hanya bisa “bergerak” dan hanya
tumbuhan yang bisa “berfotosintesis.”Alam jauh lebih kreatif dari itu, ia dapat beradaptasi dan
melampaui kategori yang kita anggap mutlak.
Referensi
Christa, G., Händeler, K., Kück, P., Vleugels, M., Franken, J., Karmeinski, D., & Wägele, H.
(2014). Phylogenetic evidence for multiple independent origins of functional kleptoplasty in
sacoglossan sea slugs. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, 281(1796).
Rumpho, M.E., Pelletreau, K.N., Moustafa, A., & Bhattacharya, D. (2011). The making of a
photosynthetic animal. Journal of Experimental Biology, 214(2), 303–311.
Rumpho, M.E., Worful, J.M., Lee, J., Kannan, K., Tyler, M.S., Bhattacharya, D., Moustafa, A.,
& Manhart, J.R. (2008). Horizontal gene transfer of the algal nuclear gene psbO to the
photosynthetic sea slug Elysia chlorotica. Proceedings of the National Academy of Sciences,
105(46), 17867–17871.
Wägele, H., Deusch, O., Händeler, K., Martin, R., Schmitt, V., Christa, G., Pinzger, B., Gould,
S.B., Dagan, T., Klussmann-Kolb, A., & Martin, W.F. (2011). Transcriptomic evidence that
longevity of acquired plastids in the photosynthetic slugs Elysia timida and Plakobranchus
ocellatus does not entail lateral transfer of algal nuclear genes. Molecular Biology and Evolution,
28(1), 699–706.
