Lompat ke konten

Mengenal Gurita Cincin Biru (Hapalochlaena lunulata)

Penulis: Dillon Detara (2024)
Disunting Oleh: Arivia Mutiara Syahira (2023)

Lautan memiliki banyak misteri dan makhluk yang tidak biasa dan masih belum dapat dipahami oleh manusia. Ada makhluk hidup kecil yang tampak indah diantara banyak makhluk hidup yang tinggal di dalam laut, tetapi makhluk ini sangat berbahaya dan memiliki pola khas pada sekujur tubuhnya. Apakah kalian tahu hewan apa ini?

Hapalochlaena lunulata, atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Gurita Cincin Biru, merupakan spesies gurita yang sangat mematikan, karena gurita ini memiliki racun yang sangat mematikan, zat ini dikenal sebagai tetrodotoksin dan berfungsi hanya untuk menghentikan kondisi saraf dengan mengurangi pergerakan natrium melalui saluran membrane. Hal ini dapat menyebabkan kelumpuhan otot, termasuk diafragma, dan akhirnya mematikan (Rika dkk.,2024). Saat gurita ini sedang merasakan adanya ancaman oleh predator, tubuhnya akan mengeluarkan warna biru cerah mencolok pada pola cincinya itu (Rika dkk., 2024). Sedangkan pada saat gurita ini diam warna cincinnya tidak terlalu tebal dan tidak mencolok (Caldwell, 2000).

Gurita cincin biru memiliki ukuran tubuh yang kecil atau setara dengan besarnya bola Golf. Panjang total tubuhnya dapat mencapai 20 cm jika lengannya terentang. Namun sangat jarang menjumpai pada individu yang memiliki ukuran tersebut (Nova, 2008). Pada hasil penelitian, rata-rata gurita ini memiliki panjang total 7,13 cm (6,5 -7,9 cm) pada gurita jantan dan memiliki panjang rata – rata 7,2 cm (6,2-8 cm) pada gurita betina. Panjang mantel rata – rata 1,87 cm (1,4-2,5 cm) dan lebar mantel 1,38 cm (1,05-1,9 cm). Urutan lengan diatur dari yang paling panjang, dengan 4,3,2,1 ini menunjukkan bahwa lengan ke-4 paling pendek, sedangkan lengan ke-3 dan ke-2 lebih panjang dan lengan ke-1 yang paling panjang (Adam, 1954).

Gurita cincin biru sering ditemukan di perairan dangkal pada kedalaman (0-20m) di bawah atau celah terumbu karang. Mereka juga dapat ditemukan di sela sela koloni rumput laut di daerah perairan intertidal. Gurita ini memiliki kebiasaan khusus untuk menyembunyikan dirinya di dalam kaleng atau botol minuman atau bahkan di cangkang Bivalvia yang sudah kosong. Kebiasan lainnya yaitu membenamkan hampir seluruh bagian tubuhnya ke dalam pasir. Kemampuan menyamarkan diri dengan lingkungan membuat mereka sangat sulit dibedakan dengan lingkungan (Nova, 2008).

Gurita cincin biru banyak ditemukan di wilayah Indo-Pasifik Barat, dari Tropis hingga subtropis. Mereka juga sangat umum di perairan laut di sekitar Australia. Gurita cincin biru juga tersebar luas di Indonesia, Filipina, Papua Nugini, Vanuatu, Kepulauan Solomon, dan bahkan Jepang (Manabu et al., 2019).

Gurita cincin biru adalah hewan pemakan karnivora yang memakan krustasea kecil, seperti udang dan kepiting, serta jenis moluska lainnya seperti kerang dan siput. Kanibalisme terkadang terjadi pada masa muda dan dewasa. Hewan muda sering memakan sesama hewan dari satu induk. Gurita betina sering membunuh jantannya sesaat setelah perkawinan dan kemudian memakannya. Jenis ikan seperti belut Moray merupakan predator utama (Caldwell, 2000).

Perkawinan adalah hubungan antara sesama laki-laki atau laki-laki dengan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengidentifikasi perbedaan jenis kelamin antar spesies ini masih belum berkembang. Perkawinan antara pria dan wanita dapat berlangsung antara 25 dan 246 menit. Perangsangan biasanya dimulai dengan hewan jantan mendekati betinanya, membuat kontak lengan dan jala mengembang. Jantan kemudian melapisi mantel betina dengan jalanya dan memasukkan hektokotil ke dalamnya. Setelah spermatophore dilepaskan, betina akan mulai mengakhiri perkawinan dengan mencoba menjauh dari cengkraman jantan. Dua orang ini dapat menikah lagi. Tidak seperti perkawinan pertama, perkawinan kedua biasanya dimulai oleh betina dan terjadi beberapa menit setelah perkawinan pertama (Caldwell, 2000).

Gurita cincin biru dapat menyebabkan kegawatdaruratan medis karena toksinnya, yang dapat menyebabkan kematian. Dua tahap gejala muncul. Korban mengalami gejala lokal, di mana mereka mengalami mati rasa pada wajah dan leher, paralisis, dan disfagia dalam sepuluh hingga lima belas menit setelah digigit. Tahap sistemik, yang ditandai dengan sesak napas dan gagal bernapas, biasanya terjadi dalam waktu empat hingga dua belas jam (Rika dkk., 2024).

Referensi
Adam, W. (1954). Cephalopoda 3e Partie: IV. Cephalopodes a l’ exclusion des genres Sepia, Sepiella et Sepioteuthis. E.J. Brill, Leiden: 193 pp.

Caldwell, R. L. (2000). Death in pretty package: the blue-ringed octopuses. Freshwater and Marine Aquarium Magazine, 23(3), 8-18.

Manabu, A., Takuya, M., K, U., Kyoichiro, K., Ximiao, Y., Gloria, G. D., Satoshi, T., Tamao, N., & Susumu, O. (2019). Toxicity and Toxin Composition of the Greater Blue-Ringed Octopus Hapalochlaena lunulata from Ishigaki Island, Okinawa Prefecture, Japan. Toxins , 11(5), 245.

Mäthger, L. M., Bell, G. R. R., Kuzirian, A. Μ., Allen, J. J., & Hanlon, R. T. (2012). How does the blue-ringed octopus (Hapalochlaena lunulata) flash its blue rings. Journal of Experimental Biology, 215(21), 3752-3757.

Nova, M. (2008). ASPEK BIOLOGI GURITA CINCIN BIRU (Hapalochlaena lunulata QUOY & GAIMARD, 1832). JURNAL OSEANA , 33(4), 23-26.

Rika, K. S., Nilam, N. K., Atina, R. P., Prananda, R. P., Rian, P., Ni, W. C. A. S., Tazkiyah, A. A., & Ilsa, H. (2024). Emergencies in The Maritime Field. Jurnal Biologi Tropis , 24(2b), 386.