Lompat ke konten

Menilik Kebiasaan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Taman Hutan Raya Ir. H Djuanda, Bandung yang Hobi Makan Sampah

Penulis: Tim OWA XI Divisi Mamalogi, Departemen Riset dan Keilmuan, DP XLIII Himbio Unpad


Alam menjadi magnet tersendiri bagi para wisatawan yang ingin melepas penat dari hiruk-pikuk rutinitas sehari-hari. Saat ini, wisata alam menjadi tempat yang sering dikunjungi oleh para wisatawan dari berbagai macam kalangan. Salah satu tempat wisata alam di Bandung yang sering dikunjungi adalah Taman Hutan Raya Djuanda yang biasanya dikenal dengan sebutan “Tahura”. Tahura Djuanda merupakan salah satu taman wisata alam yang di dalamnya menawarkan berbagai objek wisata, seperti Goa Belanda, Goa Jepang, Curug Koleang, Curug Lalay, jembatan gantung, penangkaran rusa, penangkaran madu, taman arena bermain, dan fasilitas outbound lainnya. Tercatat hampir 3000 wisatawan mengunjungi Tahura Djuanda di setiap akhir pekan.

Pada tanggal 27 Juli sampai 31 Juli 2022, Mahasiswa Himpunan Biologi (Himbio) Universitas Padjadjaran, Tim OWA XI Mamalogi melaksanakan kegiatan observasi di Tahura Djuanda. Kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui keberadaan dan kondisi Monyet Ekor Panjang di Tahura ini diikuti oleh sebelas orang mahasiswa, yaitu Mutiara Nur Hafsah, Canaya Vania, Annur Shaffa, Gheri Ghifari, Naftalia Rahil, Difa Nabila, Aulia Shafa, Muhammad Fadhli, Angellica, Tiara Anastasya, dan Dea Navita. Kegiatan ini didampingi oleh dua orang senior pembimbing, yaitu Muhammad Mirza dan Azis Rahmatullah, serta satu orang dosen pembimbing Dr. Eneng Nunuz Rohmatullayaly.

Di sepanjang perjalanan menyusuri Tahura, kami disuguhi rimbunnya pepohonan dan disambut oleh kawanan Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang sedang beraktivitas. Biasanya, kawanan Monyet ekor panjang ini mudah ditemui di pagi hari saat mereka sedang mencari makan. Mereka akan turun secara berkelompok, dengan pejantan alfa sebagai komandan kelompok. Sayangnya, dibalik kondisi tersebut, banyak ditemukan Monyet ekor panjang yang memiliki perilaku konsumsi yang tidak biasa, salah satunya mengkonsumsi sampah sisa-sisa kegiatan manusia. Kawanan Monyet ekor panjang tersebut mengkonsumsi sisa-sisa makan dan kadang secara tak sengaja turut memakan bungkus berupa plastik. Hal ini dikhawatirkan akan mengubah perilaku makan sekaligus dapat mengganggu sistem pencernaan Monyet ekor panjang tersebut.

Seperti kita ketahui, Monyet ekor panjang merupakan primata Omnivora yang mengkonsumsi segala jenis makanan, seperti buah, umbi, daun, bunga, biji, daging, maupun serangga (Kamilah et al., 2013; Hadi et al., 2007). Fenomena hewan memakan sampah ini ternyata banyak ditemui ditempat-tempat wisata lainnya di Indonesia, seperti yang terjadi di Hutan Monyet Solear Kabupaten Tangerang dimana sejumlah monyet tertangkap mengambil makanan dari sampah-sampah yang ditinggalkan oleh para wisatawan dan diperparah dengan minimnya tempat sampah pada kawasan tersebut (Tristiawati, 2022).

Monyet ekor panjang di Tahura Djuanda memperoleh sampah-sampah tersebut dari tong sampah yang dibiarkan terbuka ataupun sampah yang menumpuk dibalik pepohonan di sekitar warung-warung yang menjajakan berbagai jajanan. Tidak hanya itu, pengunjung yang kerap nakal juga sering dijumpai memberi makan Monyet ekor panjang yang berujung membuang makanan tersebut secara sembarangan. Padahal, jelas-jelas ada peringatan untuk tidak memberi makan kepada Monyet ekor panjang dan himbauan untuk tidak membuang sampah sembarangan dari pihak pengelola.

A picture containing tree, outdoor, mammal, monkey

Description automatically generated
Monyet ekor panjang memakan bungkus makanan ringan
A picture containing tree, outdoor, plant, branch

Description automatically generated
A picture containing tree, outdoor, ground, mammal

Description automatically generated
Monyet ekor panjang memakan sampah plastik
A picture containing tree, grass, outdoor, plant

Description automatically generated
Kondisi habitat Monyet ekor panjang yang beralih fungsi menjadi tempat pembuangan sampah

Selain itu, Pengelola Tahura Djuanda pernah mengadakan kegiatan tanpa tempat sampah beberapa tahun silam yang bermaksud agar para wisatawan menyimpan sampah mereka untuk di buang di luar kawasan Tahura. Namun, upaya tersebut dirasa kurang efektif karena tidak semua wisatawan mengerti tujuan dari diadakannya kegiatan tersebut. Hal ini menunjukkan tingkat kesadaran wisatawan juga masih kurang perihal konsekuensi dari perilaku mereka terhadap kesejahteraan hewan.

Informasi larangan memberi makan Monyet ekor panjang

Tampaknya perlu regulasi yang lebih jelas untuk menanggulangi kondisi ini, selain disediakannya tempat sampah yang tertutup dan menertibkan pengelola warung untuk mengangkut sampah setiap harinya. Tiket masuk dapat didesain dangan tambahan infromasi mengenai aturan beraktivitas di Tahura Djuanda, seperti larangan membuang sampah sembarangan, kewajiban pengunjung untuk membuang sampah di lokasi yang sudah ditentukan, serta aturan tidak memperbolehkan pengunjung untuk menjinjing kantong plastik. Tersedianya leaflet yang berisi informasi mengenai Monyet ekor panjang dan perilakunya untuk mengedukasi dan membangun kesadaran wisatawa bahwa Monyet ekor panjang dapat “belajar”.

Tempat sampah yang bisanya digunakan di setiap warung

Rekomendasi tersebut diharapkan dapat mengedukasi berbagai pihak dalam pengelolaan Tahura Djuanda, terutama wisatawan. Dengan demikian, tidak ditemukan lagi Monyet ekor panjang yang mengkonsumsi sampah terutama plastik, sehingga perilaku mereka dapat kembali pada sifat alaminya. Hal ini diharapkan dapat turut serta menjaga kelestarian Monyet ekor panjang yang saat ini berstatus endangered (EN) berdasarkan data IUCN Red List (Hansen et al, 2022). Jadi sebagai wisatawan, lakukan ini saat berkunjung ke Tahura Djuanda ya…

“Cukup tinggalkan jejak langkah, jangan tinggalkan sampah!”

Penulis: Difa Nabila Maulidia, Naftalia Rahil Kusmaryadi (Tim OWA XI Mamalogi)

Foto: Dokumentasi pribadi

Editor: Dr. Eneng Nunuz Rohmatullayaly, M.Si.

Referensi

Hadi I., Suryobroto B., &  Perwitasari, F.D.  2007. Food Preference of Semi-provisioned  Macaques Based on Feeding Duration and Foraging Party Size. HAYATI Journal of  Biosciences. 14(1): 13-17.

Hansen, M.F., Ang, A., Trinh, T., Sy, E., Paramasiwam, S., Ahmed, T., Dimalibot, J., Jones-Engel, L., Ruppert, N., Griffioen, C., Lwin, N., Phiapalath, P., Gray, R., Kite, S., Doak, N., Nijman, V., Fuentes, A. & Gumert, M.D. 2022. Macaca fascicularis. The IUCN Red List of Threatened Species 2022: e.T12551A199563077. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2022-1.RLTS.T12551A199563077.en. Accessed on 20 August 2022.

Kamilah SN, Fitria RS, Jarulis, Syarifuddin. 2013. Jenis-jenis Tumbuhan Yang Dimanfaatkan Sebagai Makanan oleh Macaca fascicularis (raffles, 1821) di Taman Hutan Rajolelo Bengkulu. Bengkulu: Jurnal Ilmiah Konservasi. 9(2): 1-6.

Tristiawati, P. 2022. Hutan Wisata Penghuni Monyet Ekor Panjang di Solear Tangerang Dipenuhi Sampah Wisatawan. https://www.liputan6.com/news/read/4956271/hutan-wisata-penghuni-monyet-ekor-panjang-di-solear-tangerang-dipenuhi-sampah-wisatawan (Diakses 23 September 2022).