Lompat ke konten

Mikroplastik: Musuh Tak Kasatmata yang Kini Ada di Tubuh Kita

Penulis: Fathya Amyra Awaro (2025)
Disunting oleh: Meiva Mayyasah Huda (2025)

Plastik telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan modern. Berbagai produk, seperti kemasan makanan, botol minuman, kantong belanja, hingga pakaian berbahan sintetis, memanfaatkan plastik karena sifatnya yang ringan, kuat, dan praktis. Namun, di balik manfaat tersebut, plastik memiliki dampak negatif terhadap lingkungan karena membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai secara alami. Selama proses penguraian, plastik tidak benar-benar hilang, tetapi akan terpecah menjadi partikel-partikel berukuran sangat kecil yang dikenal sebagai mikroplastik.

Mikroplastik merupakan partikel plastik yang berukuran kurang dari 5 milimeter. Partikel ini dapat berasal dari pecahan plastik berukuran besar maupun diproduksi secara sengaja dalam ukuran kecil untuk berbagai keperluan industri dan produk perawatan tubuh (UNEP, 2025). Saat ini, mikroplastik telah ditemukan hampir di seluruh penjuru dunia, mulai dari dasar laut terdalam, puncak gunung, tanah pertanian, air minum, hingga udara yang setiap hari dihirup manusia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pencemaran mikroplastik bukan lagi menjadi permasalahan lokal, melainkan telah berkembang menjadi isu lingkungan global (UNEP, 2025).

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa mikroplastik tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi telah memasuki tubuh manusia. Partikel ini ditemukan pada darah, paru-paru, plasenta, bahkan dinding pembuluh darah. Meskipun dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan masih terus diteliti, temuan tersebut menunjukkan bahwa manusia kini tidak hanya menjadi penyebab pencemaran plastik, tetapi juga menjadi pihak yang terpapar secara langsung (WHO, 2022).

Mikroplastik terbentuk melalui dua mekanisme utama, yaitu mikroplastik primer dan mikroplastik sekunder. Mikroplastik primer merupakan partikel yang sejak awal diproduksi dalam ukuran sangat kecil, misalnya sebagai bahan baku industri plastik (plastic pellets) atau yang sebelumnya banyak digunakan sebagai butiran pada produk kosmetik dan pembersih wajah. Sementara itu, mikroplastik sekunder terbentuk akibat pecahan plastik berukuran besar yang mengalami degradasi karena paparan sinar ultraviolet, gesekan mekanis, ombak, maupun perubahan suhu dalam waktu yang lama (UNEP, 2025).

Keberadaan mikroplastik semakin sulit dikendalikan karena ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut terbawa oleh angin, mengalir bersama air sungai hingga ke lautan, serta mengendap di dalam tanah. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa mikroplastik telah ditemukan pada ikan, kerang, burung laut, mamalia, hingga tanaman yang dikonsumsi manusia. Hal ini mengindikasikan bahwa pencemaran mikroplastik telah memasuki berbagai rantai makanan sehingga berpotensi memberikan dampak terhadap ekosistem maupun kesehatan manusia.

Tanpa disadari, berbagai aktivitas sehari-hari menjadi sumber utama terbentuknya mikroplastik. Penggunaan botol plastik, kantong plastik, sedotan, dan kemasan makanan sekali pakai yang kemudian mengalami degradasi menjadi salah satu penyumbang utama. Selain itu, serat sintetis dari pakaian berbahan poliester, nilon, dan akrilik dapat terlepas selama proses pencucian dan masuk ke lingkungan melalui saluran air. Keausan ban kendaraan di jalan raya juga menghasilkan partikel plastik berukuran sangat kecil, begitu pula cat, pelapis bangunan, berbagai produk industri, serta debu rumah tangga yang mengandung serpihan plastik dari peralatan sehari-hari. Menurut UNEP (2025), partikel-partikel tersebut dapat berpindah melalui air, udara, maupun tanah sehingga penyebarannya hampir tidak dapat dibatasi oleh batas geografis. Akibatnya, mikroplastik kini ditemukan bahkan di wilayah yang jauh dari aktivitas manusia, seperti kawasan kutub dan pegunungan tinggi.

Referensi

United Nations Environment Programme. (2025). Everything You Should Know About Microplastics. UNEP -Everything You Should Know About Microplastics

World Health Organization. (2022). Dietary and inhalation exposure to nano- and microplastic particles and potential implications for human health. WHO Report (2022)