Lompat ke konten

PIONEERS: NgaRimba (Pengamatan Primata Arboreal)

Penulis: Dea Navita Hasanah & Difa Nabila Maulidia (2021)
Departemen Mammalogi, Bidang Riset dan Keilmuan, DP XLIV Himbio Unpad

Indonesia memiliki tingkat keanekaragaman primata yang tinggi, sebanyak 64 jenis primata dari 200 jenis primata di dunia hidup di Indonesia dan 24 jenis diantaranya termasuk satwa endemik. Primata memiliki peranan penting bagi kehidupan di alam, yaitu sebagai penyebar biji-bijian yang penting bagi regenerasi hutan. Saat ini, populasi primata terus berkurang akibat hilang atau rusaknya habitat karena aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan untuk pertanian dan pemukiman, perburuan serta perdagangan ilegal. Selain itu, konflik antara primata dan manusia juga masih sering terjadi, dimana primata dianggap sebagai hama yang merusak perkebunan masyarakat.

Pengamatan Primata Arboreal atau yang lebih dikenal dengan NgaRimba, merupakan salah satu program kerja yang dilaksanakan oleh Departemen Mammalogi yang telah dilaksanakan pada 15 April, 7 Mei, dan 10 Juni 2023. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari kegiatan PIONEERS (Preparation for Biologist Activities) yang dilaksanakan oleh masing-masing departemen di bawah Bidang Riset dan Keilmuan DP XLIV Himbio Unpad. NgaRimba pada tahun ini dilaksanakan secara berkelanjutan sebanyak 3 chapter yang berfokus pada pengamatan aktivitas harian primata arboreal. Program ini berupa kegiatan pelatihan lapangan berbentuk workshop yang bertujuan untuk mewadahi minat dan potensi mahasiswa Biologi Unpad. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk mendukung persiapan para peserta OWA XII. Kegiatan ini melibatkan beberapa narasumber dan pembimbing lapangan dengan latar belakang akademisi, pemerintahan, dan NGO (Non-Government Organization). Adapun peserta yang mengikuti kegiatan ini merupakan mahasiswa Biologi Unpad angkatan 2019 sampai 2022.

Kegiatan PIONEERS Chapter I telah dilaksanakan di Koperasi Mahasiswa Biologi (KOMABI) Universitas Padjadjaran bersama 2 narasumber, yaitu Kang Iqbal Abi Yaghsyah yang merupakan Alumni Biologi Unpad 2017 dan Teh Esther Adinda yang merupakan Research Assistant at Little Fireface Project (LFP). Pada kegiatan ini, peserta dibekali materi mendasar mengenai pengenalan primata arboreal, meliputi klasifikasi dan karakteristik, jenis primata arboreal, perbedaan primata yang ada di Jawa (berdasarkan aktivitas, waktu aktif, pakan, habitat), pengamatan dan pengambilan data, penggunaan alat lapangan, program penelitian kukang Jawa yang dilakukan oleh LFP, dan dilanjutkan dengan sesi diskusi.

Kegiatan NgaRimba Chapter II telah dilaksanakan di Pusat Rehabilitasi Satwa Primata Jawa – The Aspinall Foundation Indonesia Program (TAF-IP) yang berlokasikan di Kawasan Patuha Lebakmuncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Lokasi ini dipilih sebagai tempat pelaksanaan kegiatan karena terdapat beberapa jenis satwa primata rehabilitasi diantaranya Owa Jawa, Lutung Jawa, Surili, dan Siamang, sehingga peserta dapat belajar mengidentifikasi beberapa jenis Primata Jawa secara langsung. Selain itu, terdapat beberapa jenis primata yang berada dalam kondisi tidak sehat atau bahkan disabilitas akibat dipelihara oleh manusia, sehingga kegiatan ini dapat membangun kesadaran dan keterlibatan aktif dalam upaya konservasi atau pelestarian primata.

Kegiatan NgaRimba Chapter II diisi oleh Alumni Biologi UNPAD 2017, yaitu Teh Indah Shafira yang juga merupakan Research and Conservation at TAF-IP. Pematerian yang diberikan membahas mengenai program rehabilitasi yang dilakukan oleh TAF-IP, identifikasi, metode pengambilan data aktivitas harian, dan pengenalan alat lapangan pada pengamatan primata arboreal. Setelah dilakukannya sesi pematerian dan diskusi, NgaRimba Chapter II dilanjutkan dengan kegiatan lapangan, yaitu identifikasi secara langsung dan interpretasi kawasan. Pada saat berkeliling, para peserta diajak untuk bersama-sama melakukan identifikasi Primata Jawa yang ditempatkan pada beberapa jenis kandang sesuai dengan kesiapan dan mengamati aktivitas beberapa satwa rehabilitan disini dengan berbagai kisah menyedihkan akibat ulah keegoisan manusia.

Kegiatan NgaRimba Chapter III telah dilaksanakan di TBMK (Taman Buru Masigit Kareumbi) yang berada di Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. Lokasi ini dipilih karena TBMK merupakan kawasan konservasi yang banyak dihuni oleh beberapa jenis primata seperti monyet ekor panjang, Lutung Jawa, Owa Jawa, dan Kukang Jawa, sehingga peserta dapat mengidentifikasi dan mengamati aktivitas primata di habitat aslinya secara langsung.

Pada penghujung dari kegiatan NgaRimba ini, para peserta diminta untuk  mengaplikasikan seluruh muatan yang telah diberikan melalui praktik berkelompok dengan pengamatan aktivitas harian primata secara langsung bersama dengan pembimbing lapangan, yaitu Muhammad Arkan Dzaky yang merupakan Mahasiswa Biologi Unpad 2019 dan beberapa petugas lapangan dari TBMK. Para peserta berhasil mengamati beberapa aktivitas dari 4 individu monyet ekor panjang dan menuliskannya pada worksheet. Aktivitas yang teramati, yaitu brakhiasi (bergelantungan dipohon), makan, dan istirahat meskipun hanya dilakukan dalam beberapa menit saja, dikarenakan jalur monyet ekor panjang yang tidak dapat dilalui oleh pengamat. Sedangkan aktivitas dari primata lainnya seperti lutung Jawa, sama sekali tidak ditemukan meskipun sudah menyusuri daerah teritorialnya. Hal ini terjadi karena sedikitnya populasi lutung Jawa di kawasan TBMK.

Kegiatan NgaRimba dibentuk dengan harapan yang besar kepada mahasiswa biologi, agar dapat lebih aware mengenai perburuan satwa liar terutama pada primata yang telah banyak terjadi dengan melakukan edukasi secara langsung dan tidak langsung kepada masyarakat sekitar dan mendorong peserta maupun pembaca artikel ini untuk terlibat aktif dalam upaya konservasi pelestarian primata. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mengidentifikasi primata bagi yang berminat untuk melakukan pengamatan/penelitian di bidang mammalogi khususnya primatologi, serta dapat menambah pengetahuan peserta dan turut mendukung pengetahuan akademiknya. Kegiatan ini juga dapat menjadi ajang untuk menjalin kerjasama dan memperluas relasi antara peserta dengan pihak alumni dan pihak eksternal seperti NGO yang bergerak dibidang pelestarian primata seperti Little Fireface Project (LFP), The Aspinall Foundation Indonesia Program (TAF-IP), serta lembaga pemerintahan kawasan konservasi seperti TBMK (Taman Buru Masigit Kareumbi),

Upaya konservasi satwa beserta ekosistemnya merupakan tanggung jawab seluruh manusia dimuka bumi. Mari pelihara alam dan tetap menikmati indahnya keanekaragaman hayati Indonesia di masa depan. Oleh karena itu mari turut suarakan:

“STOP PERBURUAN PRIMATA, BIARKAN MEREKA HIDUP DI ALAM BEBAS”
Salam konservasi, salam lestari.