Lompat ke konten

Rahasia Kembang Bulan (Tithonia diversifolia): dari Pupuk, Obat, hingga Pemulih Lingkungan

Penulis: Nazella Tsabita Az-Zahra (Biologi 2023)
Disunting oleh: Viola Anindita Dewi (Biologi 2023)

Kembang Bulan (Tithonia diversifolia) atau kipait merupakan perdu tegak tahunan yang dapat tumbuh hingga setinggi 3–5 meter di alam liar, terutama di tepi sungai, lereng, atau lahan terbuka yang terkena banyak sinar matahari (Amanatie & Sulistyowati, 2015). Sekilas, bunganya mirip dengan bunga matahari karena keduanya berasal dari famili yang sama, yaitu Asteraceae. Tanaman invasif ini berasal dari Amerika Tengah dan kini menyebar luas di daerah tropis, termasuk Indonesia, karena mudah tumbuh di berbagai kondisi tanah dan memiliki daya adaptasi tinggi (Sirait & Simanihuruk, 2021).

Di bidang pertanian, T. diversifolia berpotensi besar sebagai pupuk organik alami yang ramah lingkungan. Daun kipait yang tumbuh di Sumatera Barat mengandung unsur hara makro penting, yaitu nitrogen (0,95–1,55%), fosfor (0,33–1,5%), dan kalium (0,35–0,88%) (Gusnidar et al., 2019; Rozen et al., 2020). Rasio C/N daun T. diversifolia sebesar 17,49% (Hafifah et al., 2016). Rasio ini termasuk kategori rendah (<20%) sehingga mudah terurai dan cepat terdekomposisi (Sunarti & Hasibuan, 2020). Karakteristik ini sesuai dengan standar bahan pupuk organik menurut IFOAM (2006), yang mensyaratkan rasio C/N rendah agar unsur hara cepat tersedia bagi tanaman. Hasil penelitian Hafifah et al. (2016) juga menunjukkan bahwa pupuk organik dari T. diversifolia mampu memperbaiki sifat fisik tanah, seperti kerapatan jenis, porositas, stabilitas agregat, dan kapasitas menahan air. Selain itu, pupuk organik berbahan T. diversifolia juga meningkatkan kualitas kimia tanah dengan menambah kadar bahan organik serta unsur hara seperti N, P, K, Ca, dan Mg (Agbede & Afolabi, 2014 dalam Hasibuan et al., 2021).

Selain memperbaiki kesuburan tanah, T. diversifolia juga berpotensi sebagai pestisida nabati yang ramah lingkungan. Penelitian Irawan et al. (2024) membuktikan bahwa ekstrak daun T. diversifolia mampu menekan populasi kutu kebul (Bemisia tabaci Genn.) secara signifikan. Bahkan, pada konsentrasi 20 mL per liter air, pestisida kipait sudah menunjukkan efek nyata dibandingkan kontrol tanpa perlakuan. Semakin tinggi konsentrasi pestisida nabati T. diversifolia yang diberikan, semakin besar pula penurunan populasi dan intensitas serangan kutu kebul pada tanaman kentang, sekaligus meningkatkan hasil panen. Kandungan senyawa seperti alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin dalam daun T. diversifolia berperan sebagai racun alami bagi serangga yang dapat mengganggu sistem pencernaan dan menurunkan nafsu makan (antifeedant), sehingga menyebabkan kemandulan dan menekan perkembangan serangga (Muttaqin, 2018).

Di bidang kesehatan, T. diversifolia dikenal masyarakat dengan sebutan “tanaman insulin” karena kemampuannya membantu menurunkan kadar gula darah. Penelitian Amanatie dan Sulistyowati (2015) melaporkan bahwa daun T. diversifolia mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, alkaloid, tanin, serta beberapa komponen volatil seperti β-pinene, 1,8-cineole, dan germacrene D yang berperan dalam aktivitas antidiabetes. Masyarakat di Yogyakarta dan Jawa Tengah bahkan telah lama memanfaatkan daun ini sebagai teh herbal untuk mengatasi gejala diabetes. Senyawa flavonoid dalam daun ini diketahui memiliki efek antioksidan yang membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan menghambat penyerapan glukosa berlebih dalam darah.

Selain potensinya di bidang pertanian dan kesehatan, T. diversifolia memiliki kemampuan luar biasa dalam memulihkan tanah yang tercemar logam berat melalui proses fitoremediasi. Penelitian Ogunremi et al. (2025) menemukan bahwa pada tanah tercemar limbah oli, T. diversifolia yang dikombinasikan dengan biochar mampu mengekstrak logam berat seperti tembaga (Cu), seng (Zn), timbal (Pb), kadmium (Cd), dan krom (Cr), sekaligus menstabilkan beberapa logam agar tidak mudah berpindah ke bagian tanaman yang dapat dikonsumsi. Penelitian Ayesa et al. (2018) melaporkan bahwa meskipun tumbuh di tanah yang sangat tercemar, T. diversifolia tetap mampu menyerap logam berat di bagian akar dan pucuk tanpa menunjukkan gejala toksik berat. Keunggulan ini menjadikan T. diversifolia kandidat kuat sebagai phytostabilizer untuk rehabilitasi lahan tercemar, sekaligus membantu menjaga keseimbangan ekosistem dan melindungi kesehatan manusia dari dampak logam berat.

Beragam manfaat T. diversifolia, mulai dari pupuk organik hingga fitoremediasi, menunjukkan bahwa satu spesies tumbuhan dapat berdampak besar bagi keseimbangan ekosistem dan kesejahteraan manusia. Pengelolaan dan pemanfaatannya secara bijak dapat menjadi langkah nyata menuju kehidupan yang berkelanjutan.

Referensi
Amanatie, A. & Sulistyowati, E. (2015). Structure Elucidation of the Leaf of Tithonia diversifolia (Hemsl) Gray. Jurnal Sains dan Matematika, 23(4), 101-106.

Ayesa, S. A., Chukwuka, K. S., & Odeyemi, O. O. (2018). Tolerance of Tithonia diversifolia and Chromolaena odorata in heavy metal simulated-polluted soils and three selected dumpsites. Toxicology reports, 5, 1134–1139.

Gusnidar, Fitri, A., & Yasin, S. (2019). Titonia dan Jerami Padi yang Dikomposkan terhadap Ciri Kimia Tanah dan Produksi Jagung pada Ultisol. Jurnal Solum, 16(1), 11–18.

Hafifah, H., Sudiarso, S., Maghfoer, M. D., & Prasetya, B. (2016). The Potential of Tithonia diversifolia Green Manure for Improving Soil Quality for Cauliflower (Brassica oleracea var. brotrytis L.). Journal of Degraded and Mining Lands Management, 3(2), 499–506.

Hasibuan, I. (2020). Pertanian Organik: Prinsip dan Praktis. Magelang: Tidar Media.

IFOAM. (2006). The IFOAM basic standards for organic production and processing version. Retrieved from http://agritech.tnau.ac.in/org_farm/pdf/IFOAM_basic_standards.pdf

Ogunremi, O. O., Amubieya, O. F., Ogunkunle, C. O., Patoba, F. O. (2025). Efficacy of biochar on the phytoremediation potential of Tithonia diversifolia on spent oil-contaminated soil. BMC Environ Sci, 2, 12.

Rozen, N., Gusnidar, G., & Hakim, N. (2020). Organic Fertilizer Titonia Plus and Micro Nutrients Improved Rice (Oryza sativa L.) Production in Koto Panjang and Koto Tingga, Padang City, West Sumatera, Indonesia. Journal of Tropical Crop Science, 7(1), 22–27.

Sirait, S. & Simanihuruk, K. (2021). Pemanfaatan Tithonia diversifolia sebagai Pakan Ruminansia. WARTAZOA, 31(3), 137-146.

Sunarti, & Hasibuan, I. (2020). Meningkatkan Kadar Nitrogen Pupuk Organik Pelepah Sawit untuk Mendapatkan Rasio C/N Ideal. Agroqua, 18(2), 149–156.