
Penulis: Talita Rafa Hanifah (Biologi 2023)
Disunting oleh: Arivia Mutiara Syahira & Viola Anindita Dewi (Biologi 2023)
Hermit crab atau kepiting pertapa yang juga sering disebut kelomang, umang, dan kumang dalam Bahasa Indonesia, merupakan hewan bertubuh lunak yang sering dipelihara oleh masyarakat. Sebutan “kepiting pertapa” sebenarnya kurang sesuai dengan hewan ini karena karakteristiknya yang berbeda dari kepiting secara umum. Dalam buku “Hermit Crabs for Dummies” karya Wilkins A. K., disebutkan bahwa perbedaan diantara keduanya meliputi bagian abdomen (perut) panjang yang melengkung di bawah tubuh kepiting pertapa, tidak memiliki cangkang pelindung di bagian abdomen (perut) seperti pada kepiting secara umum sehingga kepiting pertapa hidup dengan ‘meminjam’ cangkang keong yang sudah mati, kepiting pertapa biasanya berjalan menggunakan tiga pasang kaki, dan memiliki antena yang lebih panjang dibandingkan dengan kepiting biasanya.
Buku karya Wilkins juga menjelaskan terkait kebiasaan unik hermit crab. Hewan ini disebutkan sebagai hewan sosial yang hidup berkoloni dan sering berpergian dalam kelompok (dapat mencapai hingga 100 individu/kelompok). Pada siang hari, kepiting pertapa biasanya menyembunyikan diri di bawah pohon, kayu apung, dedaunan, dan bebatuan atau mengubur diri dalam pasir untuk menghindari teriknya matahari dan predator. Kemudian pada malam hari, hewan ini akan berpergian di sekitar pantai (bahkan dapat berpergian sejauh 1,6—3,2 km) untuk mencari makan, cangkang baru, dan pasangan. Oleh karena itu, kepiting pertapa dikategorikan sebagai hewan nokturnal. Selain itu, hermit crab merupakan hewan omnivora yang dapat memakan daging, buah, sayur, dan bahkan sering memakan kulit kayu dan kayu apung yang membusuk. Meskipun hewan ini tidak pilih-pilih terhadap makanannya, tetapi hermit crab sangat mengkhususkan pemilihan cangkangnya. Setiap saat, hewan ini terlihat sedang mencari cangkang yang lebih baik untuk dijadikan sebagai rumah barunya.
Dalam artikel dengan judul “The Plastic Homes of Hermit Crabs in the Anthropocene” yang ditulis oleh Jagiello dkk. (2024), dijelaskan bahwa pada zaman kini, ketika aktivitas manusia secara signifikan berdampak terhadap lingkungan, kebiasaan unik hermit crab dalam memilih cangkang telah berubah. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa sudah tercatat sebanyak 386 individu hermit crab yang menggunakan cangkang buatan seperti tutup plastik, pecahan bohlam, dan tutup logam. Kejadian tersebut ditemukan di berbagai belahan dunia, bahkan di Indonesia. Menurut Jagiello dkk. (2024), hal ini kemungkinan dapat terjadi karena beberapa hal yang diantaranya, yaitu keberadaan cangkang keong yang semakin sedikit, penggunaan cangkang buatan yang dapat meningkatkan kamuflase, terlihat lebih menarik bagi betina, dan memiliki beban yang lebih ringan dibandingkan cangkang keong. Perubahan tersebut dapat dikategorikan sebagai bentuk adaptasi hermit crab terhadap perubahan lingkungan yang dapat berdampak pada evolusi jangka panjang. Namun dalam penelitian Jagiello dkk. (2024), belum diketahui secara pasti apakah perubahan ini akan berdampak secara positif atau negatif. Oleh karena itu, untuk mencegah dampak negatif yang dapat terjadi, alangkah baiknya kita mulai menerapkan gaya hidup peduli lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi penggunaan bahan sekali pakai agar habitat hermit crab tetap terjaga.
Referensi
Jagiello, Z., Dylewski, L., & Szulkin, M. (2024). The plastic homes of hermit crabs in the Anthropocene. Science of The Total Environment, 913, 1-6.
Wilkins, A. K. (2007). Hermit Crabs for Dummies. Hoboken: Wiley Publishing, Inc.