
Penulis: Hasna Alia (2024)
Disunting oleh: Meiva Mayyasah Huda (2025)
Saat kita sedang jatuh cinta, kita dapat merasakan berbagai respons tubuh seperti jantung berdebar dan suhu tubuh yang meningkat. Saat kita ingin mencari pasangan kita akan memiliki banyak pertimbangan ketika mencari calon pasangan sejati kita. Namun, apakah hanya manusia yang memiliki banyak pertimbangan ketika mencari pasangannya?
Nyatanya, hewan pun menghadapi tantangan yang serupa yaitu memilih pasangan yang tepat. Bedanya, mereka tidak membaca profil atau bertukar pesan, melainkan mengandalkan aroma tubuh, suara ultrasonik, warna bulu, hingga sinyal kimia. Dengan kata lain, hewan juga memiliki “spektrum romansa”-nya sendiri.
Pada manusia bila beberapa memiliki preferensi pada individu yang tinggi, memiliki kulit cerah, dan preferensi lainnya, pada hewan sendiri kriteria pemilihan pasangan dapat dimulai dari ketertarikan secara penampilan dan bagaimana kemampuan para potential mate untuk melakukan reproduksi. Pada hewan Rodentia, mereka memiliki indra penciuman yang dapat memberikan informasi mengenai jenis kelamin, peringkat sosial, kesehatan, dan penerimaan seksual. Pada mencit betina, mereka memiliki preferensi pada aroma tubuh mencit jantan yang sehat ketimbang yang terkena infeksi. Namun, hal ini tidak selalu berlaku bila betina tidak memiliki oksitosin atau reseptor OXTR. Hal ini disebabkan karena kemampuan untuk mengevaluasi relevansi sosial dari aroma jantan menjadi menurun.. Selain dengan kemampuan indra penciuman, aspek lain seperti ultrasonic vocalizations (USVs) dapat memberikan informasi reproduksi dan kualitas dari ‘calon pasangan’ (Blumenthal & Young, 2023).
Mekanisme-mekanisme biologis tersebut tidak hanya berperan dalam menentukan ketertarikan awal, tetapi juga memengaruhi pembentukan ikatan jangka panjang antar individu. Selain ketertarikan secara fisik, pembentukan ikatan pasangan (pair bond) sering kali diikuti oleh aktivitas seksual, meskipun hal tersebut bukan merupakan syarat mutlak terbentuknya keterikatan emosional. Aktivitas seksual dapat memicu pelepasan hormon seperti oksitosin dan vasopresin yang memperkuat ikatan, namun faktor ini bukan satu-satunya dasar terbentuknya hubungan emosional. Dalam konteks sistem perkawinan, pair bond dapat ditemukan dalam bentuk monogami maupun poligami. Pada manusia, monogami merupakan bentuk hubungan yang paling umum, meskipun terdapat kultur yang menerima praktik poligami. Sementara itu, sebagian besar mamalia tidak menunjukkan monogami sosial jangka panjang, meskipun beberapa spesies membentuk ikatan pasangan yang stabil. Pada manusia, pembentukan hubungan monogami dipengaruhi oleh interaksi antara faktor sosial, budaya, dan mekanisme neurobiologis, sedangkan pada hewan, regulasi hormonal dan sistem saraf memainkan peran yang lebih dominan dalam pembentukan ikatan tersebut (Blumenthal & Young, 2023).
Selain variasi dalam sistem perkawinan, spektrum relasi pada hewan juga mencakup variasi dalam preferensi seksual. Preferensi seksual memainkan peran penting dalam pembentukan relasi romantik pada manusia maupun dalam sistem sosial dan reproduktif pada hewan. Secara umum, interaksi heteroseksual lebih sering ditemukan karena berkaitan langsung dengan reproduksi. Namun demikian, baik pada manusia maupun hewan, terdapat pula hubungan sesama jenis (same-sex sexual behaviour) yang telah terdokumentasi secara ilmiah. Pada hewan, perilaku ini tidak selalu dipandang sebagai suatu “kesalahan”, melainkan sebagai bagian dari variasi alami dalam sistem perilaku seksual.
Perilaku seksual sesama jenis telah ditemukan pada berbagai kelompok hewan dan dapat melibatkan beragam faktor biologis. Mekanisme neurobiologis dan hormonal berperan penting dalam mengatur respons sosial dan seksual, termasuk regulasi oleh hormon serta sensitivitas reseptor dalam sistem saraf. Dalam beberapa kondisi, perilaku seksual dan preferensi seksual dapat mengalami disosiasi, yaitu ketika individu secara morfologis dan perilaku menunjukkan karakteristik jantan seperti melakukan mounting namun, memiliki preferensi seksual terhadap sesama jantan. Fenomena ini diduga berkaitan dengan variasi paparan hormon selama periode perkembangan awal (perinatal) yang memengaruhi organisasi otak.
Salah satu contoh yang telah diteliti adalah pada domba (ram), di mana sekitar 8% pejantan menunjukkan preferensi homoseksual eksklusif (Balthazart, 2016). Temuan ini mendukung pandangan bahwa variasi dalam preferensi seksual pada hewan merupakan fenomena biologis yang dapat dijelaskan melalui interaksi faktor perkembangan, hormonal, dan neurobiologis.
Dengan demikian, dinamika preferensi dan pembentukan ikatan pasangan menunjukkan bahwa proses “memilih dan terikat” bukanlah fenomena eksklusif manusia, melainkan bagian dari spektrum perilaku sosial yang luas di dunia hewan.
Referensi
Balthazart, J. (2016). Sex differences in partner preferences in humans and animals. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, 371(1688), 20150118. https://doi.org/10.1098/rstb.2015.0118
Blumenthal, S.A., Young, L.J.(2023). The Neurobiology of Love and Pair Bonding from Human and Animal Perspectives. Biology. 12(844). https://doi.org/10.3390/biology12060844