
Penulis: Muslikha Rahmadini (2025)
Disunting oleh: Meiva Mayyasah Huda (2025)
Sejak kecil, banyak dari kita pasti mendengar perintah-perintah untuk meminum susu, konon susu merupakan kunci utama untuk memiliki tulang yang kuat, teori ini selalu diperbincangkan di platform manapun, dimulai dari hal sederhana seperti iklan di TV sampai menjadi sebuah rahasia umum untuk kita, Tapi, apakah memang benar-benar ada hubungan antara susu dengan kekuatan tulang?
Jawabannya ada, secara biologis, tulang adalah struktur jaringan hidup yang terus mengalamiproses pembentukan dan penghancuran, atau dikenal sebagai proses remodeling. Proses ini melibatkan sel-sel khusus seperti osteoblast yang membentuk tulang dan osteoklas yang merombaknya. Keseimbangan antara kedua proses ini sangat penting untuk menjaga kekuatan dan kepadatan tulang yang diantara banyak fungsinya, tulang merupakan salah satu komponen utama alat gerak tubuh secara pasif. (Wang et al., 2022)
Salah satu komponen utama yang berperan dalam proses tersebut adalah kalsium, salah satu kandungan mineral yang terkandung banyak di susu. Susu dikenal sebagai sumber kalsium yang baik. Kalsium berperan dalam proses mineralisasi tulang, yaitu proses penguatan matriks tulang agar menjadi keras dan kokoh. Penyerapan kalsium dalam tubuh tidak hanya bergantung pada jumlah asupan, hal ini juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti ketersediaan vitamin D yang terkandung juga di dalam susu, aktivitas fisik, dan kondisi hormonal individu.
Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa konsumsi kalsium, termasuk dari susu, berkontribusi terhadap peningkatan kepadatan mineral tulang, terutama pada anak-anak dan remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan. (Fardet et al., 2016). Hal ini menunjukkan bahwa susu memang memiliki peran penting dalam fase awal pembentukan tulang. Namun, pada orang dewasa, efek tersebut tidak selalu signifikan, terutama dalam hal pencegahan risiko patah tulang.
Beberapa studi bahkan menyatakan hasil yang lebih kompleks, diantaranya adalah sebuah penelitian kohort besar yang menemukan bahwa konsumsi susu dalam jumlah tinggi tidak selalu berkorelasi dengan penurunan risiko fraktur, bahkan dala beberapa kasus menunjukkan hubungan yang tidak terduga terhadap kesehatan secara umum. (Michaëlsson et al., 2014). Fakta ini menunjukkan bahwa kesehatan tulang tidak hanya ditentukan oleh konsumsi susu semata.
Faktor lain yang turut mendukung tulang adalah aktivitas fisik, terutama latihan yang memberikan beban pada tulang seperti berjalan atau berlari, atau paparan sinar matahari yang cukup untuk sintesis vitamin D berperan besar dalam membantu penyerapan kalsium, dan banyak lagi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa susu memang merupakan salah satu sumber nutrisi penting bagi kesehatan tulang, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu. Oleh karena itu, alih-alih hanya mengandalkan satu sumber saja, faktor-faktor lain juga harus turut terpenuhi untuk menjaga kesehatan tulang secara optimal.
Referensi
Fardet, A., Rock, E., Bassama, J., Bohuon, P., Prabhasankar, P., Monteiro, C., Moubarac, J. C., & Achir, N. (2015). Current food classifications in epidemiological studies do not enable solid nutritional recommendations for preventing diet-related chronic diseases: the impact of food processing. Advances in nutrition (Bethesda, Md.), 6(6), 629–638. https://doi.org/10.3945/an.115.008789
Michaëlsson, K., Wolk, A., Langenskiöld, S., Basu, S., Warensjö Lemming, E., Melhus, H., & Byberg, L. (2014). Milk intake and risk of mortality and fractures in women and men: Cohort studies. The BMJ, 349, g6015. https://doi.org/10.1136/bmj.g6015
Wang, L., You, X., Zhang, L., Zhang, C., & Zou, W. (2022). Mechanical regulation of bone remodeling. Bone Research, 10(1), Pasal 16. https://doi.org/10.1038/s41413-022-00190-4