Lompat ke konten

Sweet Biohack: Rahasia dari Ubi Jalar!

Penulis: Ratu Shaiba Balkis (Biologi 2023)
Disunting oleh: Viola Anindita Dewi (Biologi 2023)

Siapa sangka, energi yang stabil, mekanisme metabolisme yang baik, bahkan homon yang seimbang dapat kita temukan dari bahan pangan yang relatif murah? Sejak dulu ubi jalar dikenal hanya sebagai makanan yang dapat menggantikan nasi karena mengandung sumber karbohidrat. Di balik rasanya yang manis, ternyata ubi jalar menyimpan potensi biohacking alami yang istimewa. Biohacking merupakan istilah yang digunakan dimana seseorang memodifikasi tubuhnya untuk mengoptimalkan kondisi fisik yang baik (Gangadharbatla, 2020). Ubi jalar memiliki kandungan beta karoten yang cukup tinggi yang mampu mengurangi resiko penuan dini (Sari et al., 2023). Selain itu, terdapat kandungan vitamin C dan vitamin B yang berkontribusi dalam mengurangi resiko penuaan dini (Silvana & Wahyu, 2021). Vitamin C pada ubi jalar berperan dalam pembentukan kolagen sebagai penyusun jaringan kulit, sedangkan vitamin B berperan aktif dalam meregenerasi kulit dan memperlambat penuaan (Pattikawa et al., 2018).

Hal menarik lainnya, ubi jalar memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi putih, sehingga kadar glukosa yang terdapat dalam darah menjadi lebih rendah dari sebelumnya. Kandungan karbohidrat kompleks yang terdapat pada ubi jalar juga mampu memberikan rasa kenyang dengan jangka waktu yang lebih lama. Oleh karena itu, ubi jalar sangat cocok dan baik apabila dikonsumsi bagi penderita diabetes maupun mereka yang sedang menjalani program diet (Fitria et al., 2020).

Selain memiliki vitamin dan karbohidrat yang kompleks, ubi jalar merupakan bahan pangan yang kaya akan mineral, di antaranya kalium dan magnesium yang berperan untuk keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh (Pattikawa et al., 2018). Ubi jalar juga mengandung antosianin yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Antosianin ini merupakan zat warna alami pada ubi jalar, khususnya ubi jalar ungu (Pratiwi, 2019). Antosianin berfungsi sebagai antioksidan dan penangkap radikal bebas sehingga zat warna ini dapat mencegah terjadinya penuaan (Pratiwi, 2019).

Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki, ubi jalar dapat menjadi pengganti alternatif dari nasi tanpa mengurangi kandungan nutrisi yang penting pada tubuh. Biohacking alami ini mencerminkan adanya kandungan bioaktif yang terdapat pada ubi jalar. Oleh karena itu peningkatan inovasi dari olahan ubi jalar dapat memberikan manfaat yang banyak bagi kesehatan tubuh.

Referensi
Fitria, E., Hanum, F., Syahputra, R., Pitriyani, P., & Jayanti, N. (2020). Pemanfaatan ubi jalar sebagai pemasukan pendapatan bagi ibu-ibu di Desa Kampung Baru. Jurnal Pengabdian Masyarakat Gemilang (JPMG), 1(2), 58–65.

Gangadharbatla, H. (2020). Biohacking: An exploratory study to understand the factors influencing the adoption of embedded technologies within the human body. Heliyon, 6(5), e03931.

Pattikawa, A. B., Suparno, A., & Prabawardani, S. (2018). Nilai nutrisi umbi ubi jalar
(Ipomoea batatas (L.) Lamb.) yang dikonsumsi bayi dan anak-anak suku Dani di Distrik Kurulu Kabupaten Jayawijaya. CASSOWARY, 1(1), 47–54.

Pratiwi, S. W., & Priyani, A. A. (2019). Pengaruh pelarut dalam berbagai pH pada penentuan kadar total antosianin dari ubi jalar ungu dengan metode pH diferensial spektrofotometri. EduChemia (Jurnal Kimia dan Pendidikan), 4(1), 89–97.

Sari, P. R., Astuti, N. B., Kristanto, B., & Lusiana, S. A. (2023). Kadar Beta Karoten dan Tingkat Kesukaan Sirup Ubi Jalar Kuning (Ipomea batatas L.) dengan Penambahan Sari Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.). Gema Kesehatan, 15(2), 110–119.

Silvana, A. Y., & Wahyu, H. Y. (2021). Sweet potatoes: Development and potential as alternative food ingredients in Karanganyar Regency, Indonesia. E3S Web of Conferences, 226, 00050.