Lompat ke konten

Ternyata Mood Bisa Dikendalikan Bakteri Usus, Kok Bisa?

Penulis: Nazla Kayla (Biologi 2022)
Disunting oleh: Viola Anindita Dewi (Biologi 2023)

Sebagai mahasiswa, rasa stres dan cemas seakan sudah menjadi teman sehari-hari. Tugas menumpuk, presentasi yang menegangkan, hingga deadline yang semakin dekat sering membuat kita merasa kewalahan. Namun, ada fakta ilmiah yang mungkin terdengar mengejutkan, suasana hati dan tingkat stresmu ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan akademik, melainkan juga oleh miliaran mikroorganisme yang hidup di dalam usus.

Hubungan ini dikenal dengan istilah gut–brain–microbiota axis. Sistem ini menjelaskan bagaimana mikroba usus, otak, dan sistem saraf saling berkomunikasi dalam dua arah. Ketika tubuh mengalami stres berkepanjangan, keseimbangan mikroba dalam usus bisa terganggu, sehingga memicu reaksi berantai yang akhirnya berpengaruh pada otak. Jalur komunikasi ini melibatkan sistem saraf otonom, hormon, hingga sistem imun, sehingga benar-benar menunjukkan bahwa kesehatan usus dan kesehatan mental tidak dapat dipisahkan (Rosas-Sánchez, 2025; Huang et al., 2019).

Lebih mengejutkan lagi, mikroba usus tidak hanya menjadi “penumpang” dalam tubuh kita, melainkan juga berfungsi seperti pabrik kecil penghasil zat kimia penting. Beberapa spesies bakteri mampu menghasilkan neurotransmiter seperti serotonin, dopamin, dan GABA. Serotonin, misalnya, dikenal sebagai hormon kebahagiaan, dan sekitar 90% dari total serotonin tubuh diproduksi bukan di otak, melainkan di usus (Huang et al., 2019). Penelitian Scriven et al. (2018), membuktikan bahwa konsumsi mikroba probiotik seperti Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus casei, dan Bifidobacterium bifidum terbukti berperan dalam menurunkan gejala kecemasan dan depresi dalam beberapa minggu. Mikroba juga menghasilkan short chain fatty acids (SCFA) seperti butirat yang memiliki efek antidepresan dan membantu menjaga fungsi otak (Rosas-Sánchez, 2025).

Sebaliknya, stres yang tidak terkontrol dapat merusak integritas usus dan meningkatkan permeabilitas blood–brain barrier. Kondisi ini memungkinkan molekul pro-inflamasi masuk ke otak dan memengaruhi suasana hati (Marano et al., 2023). Penelitian Foster et al. (2017), membuktikan bahwa tikus yang dibesarkan tanpa mikrobiota (germ-free mice) menunjukkan perilaku lebih cemas dibandingkan tikus normal. Pemberian Lactobacillus rhamnosus pada tikus terbukti mampu menurunkan kadar hormon stres corticosterone serta mengurangi kecemasan (Bibbò et al., 2022). Tidak mengherankan jika saat ini para ilmuwan mulai menyebut mikroba usus sebagai “organ tersembunyi” yang memiliki peran penting dalam kesehatan mental.

Mengelola stres bukan hanya soal manajemen waktu atau teknik relaksasi, tetapi juga tentang bagaimana kita merawat mikrobiota usus. Makanan fermentasi seperti yogurt, kimchi, kefir, dan tempe terbukti mendukung populasi mikroba baik. Selain itu, pola makan tinggi serat dari buah dan sayur berfungsi sebagai prebiotik yang menjadi “makanan” bagi mikroba sehat. Jadi, kalau mikrobiota usus kamu seimbang, kemungkinan besar kamu lebih gampang merasa tenang dan bersemangat. Sebaliknya, kalau pola makan kacau, kurang tidur, atau stres berlebihan, mikrobiota bisa terganggu dan bikin kamu makin gampang bad mood. Itu sebabnya makanan seperti yogurt, tempe, kimchi, atau makanan fermentasi sering disebut “mood booster alami” karena mengandung probiotik yang baik buat kesehatan usus.

Kesimpulannya, saat kamu merasa bad mood di tengah banyaknya deadline, jangan buru-buru menyalahkan deadline yang menumpuk. Ingatlah bahwa mungkin ada peran tersembunyi dari mikroba di ususmu. Menjaga keseimbangan mikrobiota melalui pola makan sehat, tidur cukup, dan gaya hidup teratur bukan hanya bermanfaat bagi pencernaan, tetapi juga bisa menjadi kunci untuk melakukan aktivitas dan rutinitas dengan pikiran yang lebih jernih dan suasana hati yang lebih stabil.

Referensi
Bibbò, S., Fusco, S., Ianiro, G., Settanni, C. R., Ferrarese, D., Grassi, C., Cammarota, G., & Gasbarrini, A. (2022) Gut microbiota in anxiety and depression: Pathogenesis and therapeutics. Front. Gastroenterol. 1:1019578.

Foster, J. A., Rinaman, L., & Cryan, J. F. (2017). Stress & the gut-brain axis: Regulation by the microbiome. Neurobiology of stress, 7, 124–136.

Huang, T. T., Lai, J. B., Du, Y. L., Xu, Y., Ruan, L. M., & Hu, S. H. (2019). Current Understanding of Gut Microbiota in Mood Disorders: An Update of Human Studies. Frontiers in genetics, 10, 98.

Marano, G., Mazza, M., Lisci, F. M., Ciliberto, M., Traversi, G., Kotzalidis, G. D., De Berardis, D., Laterza, L., Sani, G., Gasbarrini, A., & Gaetani, E. (2023). The Microbiota-Gut-Brain Axis: Psychoneuroimmunological Insights. Nutrients, 15(6), 1496.

Rosas-Sánchez, G. U., Germán-Ponciano, L. J., Puga-Olguín, A., Soto, M. E. F., Medina, A. Y. N., Muñoz-Carillo, J. L., Rodríguez-Landa, J. F., & Soria-Fregozo, C. (2025). Gut–Brain Axis in Mood Disorders: A Narrative Review of Neurobiological Insights and Probiotic Interventions. Biomedicines, 13(8), 1831.

Scriven, M., Dinan, T. G., Cryan, J. F., & Wall, M. (2018). Neuropsychiatric Disorders: Influence of Gut Microbe to Brain Signalling. Diseases (Basel, Switzerland), 6(3), 78.