Lompat ke konten

Tumbuhan Lokal sebagai Aset Berharga: Etnobotani di Kampung Cigumentong

Sumber daya alam yang berlimpah merupakan keunggulan tersendiri yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Berbagai macam flora yang hadir sudah sejak lama dimanfaatkan dan digunakan oleh masyarakat secara umum, baik untuk keperluan medis, konsumsi, maupun sandang beserta papan. Ilmu mengenai pemanfaatan dan penggunaan flora oleh khalayak umum untuk keperluan sehari-hari dinamakan ilmu etnobotani.

Kata etnobotani sendiri, berasal dari kata etnologi dan botani, yang masing masing memiliki arti ilmu yang mempelajari mengenai suku serta budaya yang ada pada daerah atau lokasi tertentu dan ilmu yang mempelajari mengenai tumbuhan secara umum. Pada intinya, etnobotani adalah ilmu yang mengkaji tumbuhan dan interaksi antara manusia dan sumber daya tumbuhan yang secara umum dimanfaatkan oleh manusia. (Iswandono et al.,  2015)

Pemanfaatan dan penggunaan ilmu etnobotani sendiri telah lama digunakan sebagai upaya pencegahan terhadap penyakit-penyakit yang menjangkit masyarakat umum ataupun media pengobatan dan pemulihan. Menurut Usman (2011), penggunaan tumbuhan obat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dinilai dapat memberikan manfaat yang melimpah, di antaranya: 

  1. Menjaga Kesehatan

Tumbuhan obat digunakan sebagai komponen atau bahan yang digunakan untuk menjaga kesehatan. Obat-obatan tradisional dari tumbuhan terbukti melalui berbagai riset dapat meningkatkan vitalitas tubuh dan meningkatkan sistem imun untuk mencegah berbagai penyakit.

  1. Memperbaiki Kesehatan

Obat-obatan tradisional telah sejak lama digunakan sebagai media untuk memperbaiki kesehatan seseorang. Penggunaan tanaman obat sebagai sarana pengobatan masih dilakukan secara umum hingga saat ini, misalnya seperti penggunaan bawang dan minyak kelapa yang digunakan untuk mengobati penyakit demam dengan cara diurut atau misalnya penggunaan campuran larutan asam jawa dan gula merah yang digunakan sebagai obat batuk. 

  1. Meningkatkan Pendapatan Masyarakat

Tanaman obat-obatan dan rempah masih menjadi komoditas utama yang berkontribusi dalam kegiatan ekonomi di Indonesia baik dalam lingkup rumah tangga, maupun nasional. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan nilai ekspor rempah antara Januari hingga April 2020, nilai ekspor rempah Indonesia mencapai USD 218,69 juta, atau naik 19,28 persen dibandingkan periode waktu yang sama tahun 2019. (Tanjung et.al., 2022)

Dengan sumber daya yang melimpah di negara Indonesia, sangat disayangkan masih cukup banyak masyarakat yang belum dapat mengenal dan memahami potensi dari alam, khususnya sumber daya flora. Padahal, segala hal yang disediakan oleh alam pada hakikatnya dapat kita manfaatkan menjadi hal yang berguna dan bermanfaat untuk kehidupan manusia, tetapi tentunya pemanfaatan ini harus diiringi dengan prinsip konservasi yang baik pula. Kajian mengenai ilmu etnobotani perlu untuk digencarkan sebagai langkah dalam memaksimalkan potensi alam yang ada di lingkungan sekitar kita. 

Di samping permasalahan mengenai kurangnya pemanfaatan dari potensi sumber daya flora yang ada, Pengkajian mengenai ilmu etnobotani yang dilakukan oleh tim Departemen Flora dan Lingkungan (Floring), Biologi Unpad hadir sebagai salah satu langkah untuk mengatasi masalah tersebut. Pada 17 Juli 2023 lalu, tim floring melakukan riset etnobotani di Kampung Cigumentong yang terletak di Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat yang ada di kawasan konservasi TBMK (Taman Buru Masigit Kareumbi). Kampung cigumentong disebut juga kampung wisata pusat pendidikan dan pelatihan karena sering dijadikan objek penelitian dan kegiatan pelatihan pendidikan.


Gambar 1. Foto Kampung Desa Cigumentong

Gambar 2. Foto gapura Kampung Cigumentong

Pada momen ini, kami berkesempatan untuk melakukan riset secara langsung dan wawancara dengan kepala desa kampung Cigumentong untuk menggali informasi mengenai pengaplikasian ilmu etnobotani pada lingkungan sekitar masyarakat sekitar Cigumentong. Wawancara yang dilakukan selama 7 hari dengan responden masyarakat Cigumentong sebagai objek wawancara utama yang terdiri dari 17 Kartu Keluarga didapatkanlah hasil informasi berupa pengaplikasian ilmu etnobotani yang telah diwariskan secara turun-temurun.  Masyarakat desa Cigumentong dikenal dengan kemampuannya yang mahir untuk memanfaatkan tanaman baik yang liar maupun ditanam di sekitar lingkungannya untuk digunakan sebagai obat-obatan. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan hidup masyarakat Cigumentong yang telah dibekali dengan ilmu etnobotani yang baik sedari dini.

Gambar 3. Dokumentasi Kirinyuh oleh Tim Floring

Kemampuan ini dapat dilihat dengan luasnya pengetahuan masyarakat secara umum terhadap kemampuan, kegunaan, dan potensi sumber daya alam. Misalnya saja, masyarakat Kampung Cigumentong yang rata-rata berprofesi sebagai petani, sering kali mendapatkan luka sabetan atau sayatan dari perkakas bertani. Untuk itu, masyarakat Cigumentong menggunakan getah daun tanaman Kirinyuh (Chromolaena odorata) sebagai alternatif obat antiseptik untuk mencegah infeksi dan sebagai komponen penutup luka. Cara pakainya adalah dengan mengeruk tangkai batang tanaman kirinyuh, sampai gumpalan getah dirasa cukup. Lalu campurkan gumpalan getah dengan kulit tangkai yang teriris, dan tempelkan pada bagian yang terluka. Ilmu tradisional ini telah teruji secara klinis melalui berbagai penelitian. Seperti riset yang dilakukan oleh Putry et.al (2021) yang menemukan hasil bahwa terdapat lima komponen utama yang terdapat pada tanaman kirinyuh sebagai komponen fitokimia yang efektif dalam proses penyembuhan luka, di antaranya adalah Germacrene D (23.86%), Trans (beta) –caryophyllene (21.07%), Cadinene (14.30%), Hexadecanoic acid (CAS), Palmitic acid (12.07%) dan Octadecatrienoic acid methyl ester (6.30%).  

Hal kecil seperti tanaman kirinyuh dapat dimanfaatkan dengan tepat oleh masyarakat Cigumentong melalui ilmu etnobotani, hal ini tentunya menunjukkan urgensi dari pentingnya penerapan pengetahuan etnobotani bagi masyarakat Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah. Sebab, siapa yang menyangka jika tanaman yang dianggap gulma seperti kirinyuh memiliki khasiat tersendiri dalam proses penyembuhan luka? Ini merupakan langkah awal untuk membuka berbagai inovasi dan memaksimalkan potensi beragam sumber daya yang ada di sekitar kita. Karena siapa yang tahu bahwa rumput kecil di pekarangan rumah kita, bunga berwarna-warni yang kita temukan di jalan, atau bahkan lumut hijau yang ada di kolam pusat kota memiliki potensi yang belum ditemukan hingga saat ini. 

DAFTAR PUSTAKA

Iswandono, E., Zuhud, E. A. M., Hikmat, A., dan Kosmaryandi, N. 2015. Pengetahuan Etnobotani Suku Manggarai dan Implikasinya Terhadap Pemanfaatan Tumbuhan Hutan di Pengunungan Ruteng. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 20(3): 171-181.

Putry, B. O., Harfiani, E., dan Tjang, Y. S. 2021. Systematic Review : Efektivitas Ekstrak Daun Kirinyuh (Chromolaena Odorata) Terhadap Penyembuhan Luka Studi In Vivo Dan In Vitro. Seminar Nasional Riset Kedokteran (SENSORIK II): 1-13. Jakarta, 9 Februari 2021: UPNV Jakarta

Tanjung, I. S., Efendi, S., Nasution, D. A. 2022. Strategi Kementerian Perdagangan Dalam Meningkatkan Ekspor Rempah Indonesia Dalam Upaya Meningkatkan Perekonomian Indonesia. Jurnal Ilmu Komputer, Ekonomi dan Manajemen (JIKEM), 2(2): 3651-3656

Usman, M. H. 2011. Etnobotani Pemanfaatan Tumbuhan Obat oleh Masyarakat Kecamatan Alor Tengah Utara Kabupaten Alor Nusa Tenggara Timur. Skripsi. Fakultas Sains dan Tekonologi Universitas Islam Negeri Malang: Malang.