Lompat ke konten

WEBINAR FANTASIA 2.0: Primates Existence for Human Primates Sustainability

Penulis: Mutiara Nur Hafsah (Divisi Mamalogi, Departemen Riset dan Keilmuan, DP XLIII Himbio Universitas Padjadjaran)


Indonesia termasuk negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati satwa liar primata yang sangat melimpah. Dari sekitar 200 lebih jenis primata yang ada di dunia, 64 jenis primata di antaranya hidup di alam Indonesia. Primata memiliki arti penting bagi kehidupan. Primata berperan dalam penyebaran dan pemencaran biji. Namun, keberadaan dan manfaat primata tidak banyak diketahui oleh masyarakat karena primata sering dianggap sebagai hama yang merusak perkebunan dan ladang masyarakat. Oleh karena itu, konflik antara primata dan manusia sering terjadi. Selain itu, ancaman lainnya terhadap keberadaan primata disebabkan oleh berkurangnya habitat akibat deforestasi, degradasi, dan fragmentasi habitat.

Deforestasi, degradasi, dan fragmentasi hutan merupakan salah satu ancaman terbesar terhadap keberadaan primata. Degradasi dan fragmentasi hutan yang merupakan habitat asli mereka dapat menyebabkan terjadinya isolasi habitat, penurunan daya dukung alam serta meningkatkan efek tepi akibat dari semakin luasnya batas pinggiran hutan yang terbuka. Perubahan habitat akibat deforestasi dan degradasi hutan menyebabkan satwa liar harus melakukan adaptasi untuk bertahan hidup dan beberapa kasus menjadikan spesies tertentu terancam punah. Penangkapan ilegal primata untuk diperdagangkan sebagai satwa peliharaan atau dikonsumsi dagingnya merupakan faktor lain yang sama besarnya mengancam keberadaan primata di alam karena sebagian besar primata yang diperdagangkan adalah hasil tangkapan dari alam.

Webinar FANTASIA 2.0 (Fantastic Beasts of Natures Harmonia) telah dilaksanakan pada Sabtu, 2 Juli 2022 dengan tema “Primates Existence for Human Primates Sustainability”. Webinar ini mengundang beberapa narasumber dengan latar belakang akademisi, pemerintahan, dan NGO (Non-Government Organization). Narasumber pertama adalah Prof. Dr. Ir. Hadi S. Alikodra, MS. yang merupakan Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang membawakan materi dengan judul “New Paradigm Konservasi Primata Bagi Keselamatan Manusia”. Narasumber kedua adalah Bapak Himawan Sasongko, S.Hut., M.Sc. yang merupakan Plh. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat membawakan materi dengan judul “Konservasi Tidak Bisa Dilakukan Sendiri”. Narasumber terakhir berasal dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI), yaitu Bapak Robithotul Huda, S.Si., M.Ling. yang merupakan Manajer Divisi Resiliansi Habitat di YIARI. Materi yang dibawakan berjudul “Problematika Primata Indonesia Masa Kini: Tantangan, Ancaman, dan Upaya Konservasi”.

New Paradigm Konservasi Primata Bagi Keselamatan Manusia

Materi pertama yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Hadi S. Alikodra, MS. menitikberatkan terhadap konsep dasar konservasi yang dilandasi dengan pendekatan ecosophy atau deep ecology. Menurutnya, sains konservasi primata harus menghendaki kemajuan dan perubahan untuk mengikuti dinamika perubahan manusia dan lingkungannya yang sangat pesat dan kompleks. Manusia dengan berbagai keputusannya sangat menentukan keberhasilan konservasi sehingga diperlukan pemahaman etika dan moral untuk mengendalikannya. Krisis lingkungan hanya dapat diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam secara fundamental dan spiritual. Dalam konteks pengelolaan lingkungan hidup, cara pandang sangat menentukan keberlanjutan pengelolaannya. Kekeliruan cara pandang manusia yang menganggap dirinya bukan bagian dari alam atau bagian dari keseluruhan ekosistem menyebabkan manusia tidak menyadari bahwa kerusakan ekosistem disebabkan oleh pengelolaan lingkungan hidup yang terlalu bertumpu pada kepentingan manusia (antroposentris). Deep ecology merupakan pendekatan yang holistik dan terintegrasi dalam memandang permasalahan-permasalahan yang terjadi di dunia dalam integrasi pemikiran, perasaan, spiritualitas, dan tindakan aksi.

Konservasi modern sangat berkaitan dengan kapasitas spiritual ecosophy berlandaskan falsafah memuliakan alam ciptaan-Nya. Konservasi primata modern harus terintegrasi pada implementasi konservasi primata, yaitu “In your HEAD, your HEART, and your HAND”. Dalam hal ini, konservasi primata modern harusmampu menghasilkan sumber-sumber keuangan melalui program ekowisata dan bioprospeksi berbasis sains spiritual. Hal tersebut dapat dicapai dengan kolaborasi antar triple helix, yaitu university (akademisi), industry (industri), dan government (pemerintahan).

Konservasi Primata di Wilayah Kerja Balai Besar KSDA Jawa Barat: “Konservasi Tidak Bisa Dilakukan Sendiri”

Gambar 1. Sebaran Primata di Wilayah Kerja BBKSDA Jawa Barat

Materi kedua disampaikan oleh Plh. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, yaitu Bapak Himawan Sasongko, S.Hut., M.Sc. Materi yang dipaparkan berfokus pada peran BBKSDA Jawa Barat sebagai birokrat di wilayah kerjanya dalam upaya konservasi primata di Jawa Barat. Peran BBKSDA Jawa Barat dalam upaya konservasi adalah melakukan kerja sama dan penguatan fungsi dengan lembaga konservasi lainnya dalam rehabilitasi satwa hasil penyerahan dan pelaporan dari masyarakat, melakukan monitoring primata dilindungi khas Jawa Barat dan Banten pada kawasan konservasi, dukungan penengakkan hukum dan edukasi/sosialisasi, penguatan kelembagaan pemerintah, dan aktivasi call center BBKSDA Jawa Barat.

Menurut Himawan Sasongko, tantangan konservasi yang ada di wilayah Jawa Barat adalah berkurangnya habitat, fragementasi habitat, perburuan liar, perdagangan illegal, dan konflik. Menurutnya, dalam menghadapi tantangan tersebut perlu kolaborasi antara berbagai elemen dalam hal ini pentahelix (tokoh masyarakat, tokoh politik, pemerintah dan APH, dunia usaha, PERS, akademisi, dan pegiat medsos) untuk perlindungan dan pelestarian primata di wilayah Jawa Barat. Konservasi tidak dapat dilakukan sendiri, setiap pihak berperan dengan porsi dan latar belakangnya masing-masing.

Problematika Primata Indonesia Masa Kini: Tantangan, Ancaman dan Upaya Konservasi

Materi ketiga disampaikan oleh Bapak Robithotul Huda, S.Si., M.Ling. dari Yayasan IAR Indonesia sebagai praktisi yang melakukan pendekatan secara holistik melalui kerja sama dengan multipihak. Pembahasan menitikberatkan terhadap fakta di lapangan khususnya di media sosial mengenai problematika primata Indonesia yang di dalamnya mencakup kejahatan terhadap satwa liar primata, konflik satwa liar primata dan manusia, tren pemeliharaan dan citra primata di media sosial, serta tantangan dan upaya konservasi satwa liar primata.

Berdasarkan data yang didapatkan, sejak tahun 2012 tren perdagangan kukang mengalami penurunan. Hal tersebut menunjuukan keberhasilan upaya penegakkan hukum dan penyadartahuan yang dilakukan terhadap masyarakat-masyarakat. Namun, tren perdagangan monyet ekor panjang meningkat akibat pengaruh tren pemeliharaan satwa di media sosial. Sedangkan, untuk berbagai jenis owa, tren perdagangan mengalami fluktuatif, hal tersebut menyasar pada strata sosial tertentu karena harga jual owa yang tinggi.

Selain tren pemeliharaan, konflik antara manusia dan primata merupakan problematika primata lainnya di masa kini. Monyet ekor panjang merupakan salah satu primata dengan pemberitaan konflik terbanyak. Faktor penyebab terjadinya konflik adalah persepsi masyarakat terhadap MEP, dekatnya habitat di perkotaan/hutan dengan pemukiman/pertanian, dan kebiasaan manusia memelihara dan memberi makan monyet ekor panjang. Konflik lainnya dapat diakibatkan oleh infrastruktur, yaitu instalasi listrik. Tidak ada solusi tunggal yang dapat menangani permasalah konflik manusia dan primata.

Selain pemerintah, masyarakat, swasta, dan akademisi yang berperan sebagai ilmuwan konservasi. Adapun media sebagai ilmuwan sosial yang berperan penting dalam konservasi primata di Indonesia. Peran ilmuwan sosial mencakup banyak hal, seperti membentuk persepsi masyarakat mengenai pemeliharaan satwa liar secara illegal, penangangan mitigasi konflik satwa liar, mencitrakan primata di media sosial, dan mengomunikasikan sains ilmiah menjadi media yang mudah diterima oleh masyarakat luas. Citra primata di media sosial menjadi penting agar publik dapat memahami tentang konservasi primata dan bagaimana mencitrakan primata yang bertanggung jawab. Panduan mengenai mencitrakan primata yang bertanggung jawab dapat dilihat pada. Unduh: https://humanprimateinteractions.files.wordpress.com/2022/06/67e3f-hpi-imagery-guidelines-bahasa-indonesian.pdf