Penulis : Saiful Ihsan dan Irvan Satria (2021)
Departemen Herpetologi, Bidang Riset dan Keilmuan, DP XLIV Himbio Unpad
Taman Buru Masigit Kareumbi (TMBK) merupakan salah satu kawasan konservasi yang secara administrasi terletak di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Garut. TBMK dimanfaatkan sebagai kawasan konservasi, pendidikan dan pelatihan alam terbuka, penelitian dan pengembangan, pemberdayaan masyarakat, pemulihan populasi satwa buru dan wisata buru, dan pemulihan ekosistem (Suryani, 2018). Sebagai kawasan konservasi, masih sangat minim data mengenai jenis herpetofauna yang terdapat di TBMK. Pada tahun 2023 ini, Divisi Herpetologi Himpunan Mahasiswa Biologi Universitas Padjadjaran melakukan kegiatan Observasi Wahana Alam (OWA) ke-12 di kawasan TBMK untuk mengetahui keanekaragaman jenis herpetofauna pada kawasan ini, yang harapannya penelitian ini dapat membantu penelitian terkait ke depannya.
Kegiatan OWA Departemen Herpetologi dilakukan selama 7 hari dengan 4 hari pengamatan yang dilakukan pada tanggal 23-29 Juli 2023. Kegiatan penelitian dimulai dengan survei pendahuluan yang dilakukan guna mengetahui keadaan habitat serta dapat menentukan lokasi mana yang berpotensi ditemukannya Herpetofauna. Pada survei pendahuluan ditentukan titik yang akan dipasang transek. Transek dipasang pada dua lokasi yang mewakili tataguna lahan pada kawasan blok pemanfaatan Taman Buru Masigit Kareumbi, yaitu hutan sekunder dan hutan pinus. Pada kedua lokasi tersebut memiliki tipe vegetasi yang berbeda, pada hutan sekunder vegetasi berupa hutan heterogen yang ditumbuhi berbagai macam jenis tumbuhan, sedangkan pada hutan pinus vegetasi berupa hutan homogen yang didominasi oleh pohon pinus.
Blok pemanfaatan disampling 6 garis transek dengan masing-masing panjang 100 meter dengan area yang relatif dekat dengan anak sungai. Lokasi yang seperti ini merupakan habitat paling sesuai bagi hewan-hewan amfibi. Selain itu, lokasi yang dipilih juga merupakan lokasi yang relatif bisa terjangkau sinar matahari sehingga di pagi hari bisa menemukan reptil yang sedang berjemur.
Berdasarkan data yang dihimpun, didapatkan 8 jenis reptil dari 4 famili, jumlah jenis masing-masing famili, yaitu famili Gekkonidae (1 jenis), Agamidae (3 jenis), Scincidae (2 jenis) dan Colubridae (2 jenis). Sedangkan jumlah jenis amfibi yang ditemukan sebanyak 8 jenis dari 4 famili yaitu Ranidae (4 jenis), Dicroglossidae (2 jenis), Megophryidae (1 jenis), dan Rhacophoridae (1 jenis). Jumlah seluruh individu yang ditemukan adalah sebanyak 165 individu, dengan rincian pada hutan pinus ditemukan 51 individu dan pada hutan sekunder ditemukan sebanyak 114 individu. Dari hasil yang diperoleh, lebih banyak individu yang ditemukan pada hutan sekunder dibandingkan dengan hutan pinus, hal tersebut terjadi karena pada hutan pinus terdapat banyak aktivitas manusia seperti penyadapan getah pinus yang dilakukan oleh masyarakat sekitar sehingga hal tersebut mempengaruhi kualitas dari ekosistem. Salah satu spesies menarik yang ditemukan saat pengamatan adalah Rhacophorus reinwardtii, spesies ini memiliki warna yang sangat menarik yaitu hijau dengan selaput kaki yang berwarna kekuningan dengan bercak biru. Selain warna yang cantik, spesies katak ini juga memiliki selaput yang lebar hingga ke ujung jari mendukungnya untuk melayang di udara, sehingga katak ini sering juga disebut katak terbang (Amin, 2020).

Pada saat pengamatan juga ditemukan salah satu katak endemik Pulau Jawa yaitu Wijayarana masonii dengan nama umum kongkang jeram, katak tersebut merupakan anggota dari famili Ranidae. Seperti namanya, katak ini memiliki habitat di sungai di dataran tinggi dengan banyak jeram (Alhadi dkk., 2021). Saat pengamatan, katak ini ditemukan dengan jumlah 3 individu dengan dua diantaranya ditemukan sedang kawin. Pada spesies ini, individu jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dibandingkan dengan betina.
Selain amfibi ditemukan juga ular endemik Jawa Barat yaitu Elapoidis fusca (Dark grey ground snake). Ular ini memiliki tubuh kecil berwarna gelap dengan warna bercak oranye pada bagian leher hingga setengah tubuhnya. Ular ini merupakan ular yang jarang dijumpai karena bersifat fossorial atau cenderung beraktivitas di bagian substrat hutan. Ular ini cenderung tidak agresif, saat pengamat menemukan ular ini cenderung melarikan diri.
Pengamatan herpetofauna di TBMK diharapkan untuk terus dilakukan sebagai pembaruan data yang dapat digunakan sebagai media pendidikan dan informasi untuk terus menguak keanekaragaman di wilayah ini. Selain itu, diharapkan data ini menjadi acuan bagi pemerintah sebagai acuan kebijakan konservasi untuk melindungi herpetofauna yang semakin berkurang karena terlalu banyak intervensi manusia di wilayah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, B. 2020. Katak di Jawa Timur. Akademia Pustaka, Jakarta.
Alhadi, F., Kaprawi, F., Hamidy, A., & Kirschey, T. 2021. Amfibi Pulau Jawa: Panduan Bergambar dan Identifikasi. Perkumpulan Amfibi Reptil Sumatera.
Suryani, A.S. 2018. Ketahanan dan Kerentanan Ekowisata di Tengah Perubahan Iklim. Jakarta: Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI.
